Oct28

Baru dapat ilmu baru, orang yang produktif adalah bukan orang yang bisa bekerja selama 24 jam sehari, orang yang produktif justru adalah orang yang bekerja dengan sedikit waktu tapi punya dampak yang besar

Kerja terus menerus tidak akan menyebabkan produktif, justru akan menyebabkan tidak tersisa ruang bagi kita untuk melakukan improvement serta akan menimbulkan kelelahan yang luar biasa

Ide-ide justru muncul pada saat kita relaks dan relaks bisa dapat dari tidur yang cukup (termasuk tidur siang), ketenangan (misal Shalat), hubungan yang sehat (misal becanda dengan istri :D ) , renang dan bermain Game

Jadi buat saya orang yang bisa membuat balance segalanya, itulah yang akan membuat dia produktif, tubuh ini perlu asupan yang variatif, asupan yang sama diisi terus menerus simply akan membuat tubuh mati, mati dalam kebosanan :-P

Sep21

Sang Pencerah adalah sebuah film semi biografi pendiri Muhammadiyah bernama Muhammad Darwis yang lebih dikenal dengan nama KH Ahmad Dahlan

Saya nonton film ini 2 hari yang lalu setelah banyak teman FB & Twitter memberi tahu bahwa film ini cukup bagus, tetapi saya pribadi cukup sangsi apa benar Film ini akan sebagus itu, apalagi Film ini diproduseri oleh Raam Punjabi yang notabene sering memproduksi film/sinetron dengan kualitas gak jelas, ditambah lagi di 2 Film bertemakan islam sebelumnya seperti Ketika Cinta Bertasbih dan Ayat-ayat Cinta, terus terang saya tidak begitu suka, saya merasa Islam itu isinya hanya Cinta & Poligami saja, dan kedua tema itu yang terus diekspos sepanjang film, walaupun di bukunya tidak seperti itu, apalagi ketika KCB diangkat ke sinetron, ampun dah ciri khas sinetron banget, semua digambarkan sempurna, yang sholeh, sholeh banget kehidupannya sempurna, yang jahat pun demikian, seolah-olah hidup sangat jelas gambaran hitam & putihnya

Dan setelah kurang lebih 2 jam saya menonton, alhamdulillah keraguan diatas itu sirna, karena plotnya tidak tok hitam-putih, manusia adalah manusia temasuk mereka yang bergelar Kiai bisa saja salah :) , di samping itu memang ada adegan yang menurut saya rada berlebihan, tetapi secara overall, INDONESIA perlu memperbanyak film semacam ini, penuh inpirasi dan mengedukasi, Sang Pencerah mengisahkan tentang pertentangan 2 pemikiran dalam poros islam, dimana yang lama merasa terancam dengan yang baru, dan kebayang tidak oleh anda pertentangan itu berkisar soal Kiblat atau soal Meja kayu ?, zaman sekarang hal ini mungkin terlihat remen temeh, tapi di zaman dahulu, karena ketidaktahuan ilmu geografi, banyak Mesjid di Kauman, Yogyakarta mengarah ke arah yang sembarang, ada yang ke timur, barat, utara dan selatan hanya karena menyesuaikan dengan jalan raya, kasus ini coba diubah oleh KH Ahmad Dahlan, bahkan sampai membuktikan di hadapan Kiai sepuh dengan membawa peta dan kompas, tak disangka bukannya para Kiai itu sadar mereka malah meng-Kafirkan KH Ahmad Dahlan, pun begitu ketika KH Ahmad Dahlan menggunakan meja kayu dan papan tulis untuk mengajar di madrasahnya, diapun dicap Kafir, saling mengkafirkan tidak berhenti di sini, selanjutnya perbedaan pendapat situasinya malah semakin meruncing sehingga salah satu pihak ada yang tega berbuat anarkis terhadap saudaranya sendiri

Ya, kafir adalah kata yang paling sering diucapkan di dalam film ini, saya sempat menitikan air mata, bukan bukan sedih karena apa yang terjadi di masa lalu, tetapi sedih karena yang terjadi hampir 100 tahun lalu itu masih juga terjadi pada masa sekarang, dimana orang karena berbeda pendapat, seringkali memaksakan pendapatnya dan saling mencap Kafir bahkan ada juga yang berperilaku anarkis terhadap saudaranya sendiri yang jelas2 kedua belah pihak meyakini syahadat dan melakukan Shalat. Di atas adalah 2 contoh isu yang dikemukakan di film ini, masih ada isu-isu lain yang jadi bahan pertentangan, kalau penasaran silahkan ditonton saja he he

Selain sedih, perasaan saya juga bercampur dengan rasa senang karena diantara film indonesia yang bertemakan sampah (cinta+horror+esek2), akhirnya tahun ini ada juga film yang bagus, selain plot, grafik yang ditampilkan di film ini juga keren, Hanung Bramantyo saya rasa mahir sekali menampilkan keadaan Yogya zaman dahulu, saya pribadi kebetulan sangat suka sejarah, jadi kalau ada di suatu film yang menampilkan suasana masa lalu dengan background yang aduhai, saya selalu terpukau walaupun diantara bakground itu ada yang dicomot langsung dari Foto statis masa lampau, tetapi entah kenapa yang ditampilkan serasa pas saja, tidak terlalu kelihatan itu adalah sebuah foto

Dari sisi akting, tercatat hanya 2 Aktor saja yang penampilannya luar biasa, yaitu Lukman Sardi sebagai KH Ahmad Dahlan dan Slamet Rahardjo sebagai Kiai penghulu masjid besar Kesultanan Yogyakarta (uh saya lupa namanya siapa ), peran mereka sangat pas, saya bisa melihat nuansa orang jawa-islam yang kental dalam akting-akting mereka, sedangkan aktor lainnya performanya biasa-biasa saja karena memang peran mereka pun bukan merupakan tokoh kunci, tapi ada satu aktris yang performanya mengecewakan, yaitu Zaskia Mecca, dia memerankan tokoh yang cukup penting dari Film ini yaitu sebagai istri dari KH Ahmad Dahlan, tapi saya merasa penampilannya lurus-lurus saja, gak bagus & gak jelek, logat jawanya pun tidak keluar, bicara bahasa jawanya pun jarang, huft seharusnya akting dia bisa lebih bagus dari itu, entahlah saya sedikit mencium nepotisme di sini apalagi kebetulan Zaskia adalah istrinya Hanung Bramantyo yang notabene adalah sutradara film ini

Akhir kata, saya rasa ini film yang amat layak anda tonton, tontonlah di bioskop jangan di DVD bajakan, semoga dengan anda nonton di bioskop bisa memotivasi produser-produser film lainnya untuk memproduksi film-film sejenis yang berkualiats, saya bisa membayangkan kalau di masa depan akan ada film tentang Buya Hamka atau tokoh-tokoh lain yang bukan saja menghibur tapi bisa mencerahkan

My Rating :
Akting :7
Grafik : 9
Plot : 8
overall : 8/10

Jul30

Assalamu’alaikum wr wb

Apa kabar wahai kawan-kawan penduduk Jakarta, bagaimana keadaan anda hari ini ?, saya berdoa mudah-mudahan anda bersabar dengan kemacetan seperti yang mungkin anda alami pagi ini, entah anda pengguna motor, busway, KRL, Bajaj, metro mini, taxi, Toyota Camry atau bahkan mungkin Ferrari … aamiin

Di hari yang cerah ini, saya bukanlah siapa-siapa, bukan pula pejabat pemerintah, saya adalah rakyat biasa yang peduli kepada anda, mohon izinkanlah saya berbicara kepada anda dari hati ke hati

Seperti yang kita ketahui bersama kawan, orang yg lulus kuliah di negeri ini, KEBANYAKAN tidak punya pilihan lain selain bekerja di Jakarta, pun begitu pula orang yg tak berpendidikan, dari desa ke kota KEBANYAKAN memilih jakarta tuk mencari nafkah, kita ini negara merdeka wahai kawan, sebetulnya engkau bebas memilih dimana saja engkau bekerja

Tetapi entah kenapa mengapa kebebasan memilih untuk mencari nafkah selalu bermuara kepada satu kota, JAKARTA, indonesia terlalu luas, saya tidak percaya kalau Alloh SWT menurunkan rizkinya hanya di satu kota, saya hanya percaya keenganan kita untuk menjemput rizki yg membuat rizki tak dapat dijemput, menyebarlah wahai kawan menyebar, jangan dikira di daerah lain engkau tidak bisa makmur wahai kawan

Silahkan saja kawan protes kepada pemerintah kota Jakarta, pemerintah memang banyak kekurangan, tapi satu contoh tahukah seberapa banyak traffic KRL Jakarta - Bogor ?, jikalau pemerintah 100% tak peduli, traffic KRLnya tidak sebanyak itu, traffic KRL di jalur itu sudah melebihi kapasitas, sedikit saja pegawai stasiun lalai, taruhannya adalah TABRAKAN, di daerah situ bukan kereta saja yang harus ditambah, tapi RELNYA juga harus ditambah, jadi empat. Pernahkah engkau membayangkan berapa biaya yang harus dihabiskan untuk membangun hal itu, belum lagi proyek sebesar ini membuka ruang korupsi, nanti kalau itu terjadi kawan protes kembali, bukankah itu melelahkan kawan ?, padahal bukankah lebih mudah jika kawan keluar dari Jakarta, cari nafkah di kota lain, stress kawan berkurang, macet pun tak merindui anda lagi

Mungkin kawan bingung, pekerjaan apa yang kawan bisa dapat di daerah lain, hey jika kawan adalah muslim, cukuplah kita teladani bahwa Rasulullah SAW juga berniaga sejak dari kecil, ya bisnis kawan, bisnis, bagi saya akar permasalahan kemacetan jakarta bukanlah banyaknya penduduk, tetapi terlalu sedikit warga negeri ini yang mencari nafkah dari perniagaan, dan yang namanya perniagaan kita lebih bebas untuk membuka dimana saja, bahkan jika anda tetap tinggal di Jakarta, perniagaan membuat anda tidak sering kemana-mana, oke kalaupun bisnis anda mengharuskan anda kemana-mana, tapi anda tetap punya pilihan jam berapa saja anda pergi, sehingga bisa menghindari jam sibuk kota, apalagi kalau anda membuka bisnis tersebut di dekat rumah anda sendiri, wah klop sudah

Akhir kata, wahai kawan-kawanku di Jakarta, saya menulis ini bukanlah sebagai tanda protes kepada anda, tetapi saya bertujuan menulis ini untuk menyemangati anda, saya ingin berbagi bahwa hidup tanpa kemacetan itu nikmat, saya sudah hampir tidak pernah lagi menemukan kemacetan kecuali hari Sabtu ketika saya ingin berenang ke Sabuga, Bandung, dan tahukah kawan, ironisnya macetnya Bandung hari tersebut, itu karena anda-anda juga pada datang ke sini (nah kalo bagian ini kawan, beneran saya protes kepada anda huehue)

Salam Hangat

Kirconboy
(Telecommuting Evangelist - Penggiat bekerja jarak jauh/bekerja dari rumah)