Bismillahirrahmanirrahim
Layaknya pertandingan Sepakbola, kita selalu mengharapkan kemenangan terhadap Tim yang kita cintai, bagi mereka yang Blind of Love (baca : Fanatik Buta, red), kekalahan atau seri yang dialami oleh tim kesayangannya akan mengakibatkan penderitaan kejiwaan berkepanjangan yang imbasnya akan menjalar terhadap perbuatan anarkis (kerusuhan, red) ataupun skeptis (bunuh diri
). tapi bagi mereka yang cintanya proporsional, kekalahan atau seri memang membuat mereka kecewa, tapi kekecewaan tsb tidak dipendam dan dibiarkan berlalu dikarenakan dia mengerti bahwa tidak selamanya hidup itu INDAH, so bagi orang bertipe seperti ini mereka bersikap ikhlas dan bermotto positif , “Enjoy Yourself, Throw Useless Things, And Football Support Must Go On”
Nah begitupula dengan menikah, proses ta’aruf pra akad yang dilakukan relatif singkat, menyebabkan terbentuknya sosok pasangan yang ideal bagi kita, informasi2 yang kita terima selama taaruf biasanya lebih banyak tentang kebiasaaan2 si dia yang terlihat oleh umum, tetapi karakter si Dia yang paling dasar tidak banyak terungkap, kalaupun terungkap kebanyakan porsinya sangat kecil*
Persepsi yang ideal menggiring kita pada gambaran2 indah keluarga dakwah. Suami dipersepsikan bermental Super dan pribadi istimewa layaknya Rasulullah SAW (AC Milan aja yg jelas2 tim super, pernah kalah juga tuh),Istri dipersepsikan layaknya Ibunda Fathimah yang tanpa cela mengabdi pada suami.Hal ini bisa mengakibatkan dampak yang fatal, kerusuhan bisa saja meletus pabila harapan2 itu berlawanan dengan fakta yang ditemukan di lapangan eh maksudnya di rumah.