Sang Pencerah adalah sebuah film semi biografi pendiri Muhammadiyah bernama Muhammad Darwis yang lebih dikenal dengan nama KH Ahmad Dahlan
Saya nonton film ini 2 hari yang lalu setelah banyak teman FB & Twitter memberi tahu bahwa film ini cukup bagus, tetapi saya pribadi cukup sangsi apa benar Film ini akan sebagus itu, apalagi Film ini diproduseri oleh Raam Punjabi yang notabene sering memproduksi film/sinetron dengan kualitas gak jelas, ditambah lagi di 2 Film bertemakan islam sebelumnya seperti Ketika Cinta Bertasbih dan Ayat-ayat Cinta, terus terang saya tidak begitu suka, saya merasa Islam itu isinya hanya Cinta & Poligami saja, dan kedua tema itu yang terus diekspos sepanjang film, walaupun di bukunya tidak seperti itu, apalagi ketika KCB diangkat ke sinetron, ampun dah ciri khas sinetron banget, semua digambarkan sempurna, yang sholeh, sholeh banget kehidupannya sempurna, yang jahat pun demikian, seolah-olah hidup sangat jelas gambaran hitam & putihnya
Dan setelah kurang lebih 2 jam saya menonton, alhamdulillah keraguan diatas itu sirna, karena plotnya tidak tok hitam-putih, manusia adalah manusia temasuk mereka yang bergelar Kiai bisa saja salah
, di samping itu memang ada adegan yang menurut saya rada berlebihan, tetapi secara overall, INDONESIA perlu memperbanyak film semacam ini, penuh inpirasi dan mengedukasi, Sang Pencerah mengisahkan tentang pertentangan 2 pemikiran dalam poros islam, dimana yang lama merasa terancam dengan yang baru, dan kebayang tidak oleh anda pertentangan itu berkisar soal Kiblat atau soal Meja kayu ?, zaman sekarang hal ini mungkin terlihat remen temeh, tapi di zaman dahulu, karena ketidaktahuan ilmu geografi, banyak Mesjid di Kauman, Yogyakarta mengarah ke arah yang sembarang, ada yang ke timur, barat, utara dan selatan hanya karena menyesuaikan dengan jalan raya, kasus ini coba diubah oleh KH Ahmad Dahlan, bahkan sampai membuktikan di hadapan Kiai sepuh dengan membawa peta dan kompas, tak disangka bukannya para Kiai itu sadar mereka malah meng-Kafirkan KH Ahmad Dahlan, pun begitu ketika KH Ahmad Dahlan menggunakan meja kayu dan papan tulis untuk mengajar di madrasahnya, diapun dicap Kafir, saling mengkafirkan tidak berhenti di sini, selanjutnya perbedaan pendapat situasinya malah semakin meruncing sehingga salah satu pihak ada yang tega berbuat anarkis terhadap saudaranya sendiri
Ya, kafir adalah kata yang paling sering diucapkan di dalam film ini, saya sempat menitikan air mata, bukan bukan sedih karena apa yang terjadi di masa lalu, tetapi sedih karena yang terjadi hampir 100 tahun lalu itu masih juga terjadi pada masa sekarang, dimana orang karena berbeda pendapat, seringkali memaksakan pendapatnya dan saling mencap Kafir bahkan ada juga yang berperilaku anarkis terhadap saudaranya sendiri yang jelas2 kedua belah pihak meyakini syahadat dan melakukan Shalat. Di atas adalah 2 contoh isu yang dikemukakan di film ini, masih ada isu-isu lain yang jadi bahan pertentangan, kalau penasaran silahkan ditonton saja he he
Selain sedih, perasaan saya juga bercampur dengan rasa senang karena diantara film indonesia yang bertemakan sampah (cinta+horror+esek2), akhirnya tahun ini ada juga film yang bagus, selain plot, grafik yang ditampilkan di film ini juga keren, Hanung Bramantyo saya rasa mahir sekali menampilkan keadaan Yogya zaman dahulu, saya pribadi kebetulan sangat suka sejarah, jadi kalau ada di suatu film yang menampilkan suasana masa lalu dengan background yang aduhai, saya selalu terpukau walaupun diantara bakground itu ada yang dicomot langsung dari Foto statis masa lampau, tetapi entah kenapa yang ditampilkan serasa pas saja, tidak terlalu kelihatan itu adalah sebuah foto
Dari sisi akting, tercatat hanya 2 Aktor saja yang penampilannya luar biasa, yaitu Lukman Sardi sebagai KH Ahmad Dahlan dan Slamet Rahardjo sebagai Kiai penghulu masjid besar Kesultanan Yogyakarta (uh saya lupa namanya siapa ), peran mereka sangat pas, saya bisa melihat nuansa orang jawa-islam yang kental dalam akting-akting mereka, sedangkan aktor lainnya performanya biasa-biasa saja karena memang peran mereka pun bukan merupakan tokoh kunci, tapi ada satu aktris yang performanya mengecewakan, yaitu Zaskia Mecca, dia memerankan tokoh yang cukup penting dari Film ini yaitu sebagai istri dari KH Ahmad Dahlan, tapi saya merasa penampilannya lurus-lurus saja, gak bagus & gak jelek, logat jawanya pun tidak keluar, bicara bahasa jawanya pun jarang, huft seharusnya akting dia bisa lebih bagus dari itu, entahlah saya sedikit mencium nepotisme di sini apalagi kebetulan Zaskia adalah istrinya Hanung Bramantyo yang notabene adalah sutradara film ini
Akhir kata, saya rasa ini film yang amat layak anda tonton, tontonlah di bioskop jangan di DVD bajakan, semoga dengan anda nonton di bioskop bisa memotivasi produser-produser film lainnya untuk memproduksi film-film sejenis yang berkualiats, saya bisa membayangkan kalau di masa depan akan ada film tentang Buya Hamka atau tokoh-tokoh lain yang bukan saja menghibur tapi bisa mencerahkan
My Rating :
Akting :7
Grafik : 9
Plot : 8
overall : 8/10