May12

Yak itu adalah cita-cita saya, yeah cita-cita yang sedikit mengherankan memang, apalagi kebanyakan programmer yang saya kenal, kalau ditanya apakah mau menjadi programmer selama seumur hidup ?, kebanyakannya jawabannya adalah tidak !!!, saya bisa memaklumi, apalagi peran programmer boleh dibilang peran/jabatan paling rendah dari keseluruhan proses untuk mengembangkan sebuah software, ibarat orang yang membangun sebuah rumah, peran programmer mirip dengan kuli bangunan yang mengaduk pasir, membuat kusen, memplester batako dll, oleh karena itu tidak heran pula di kalangan pegiat IT, programmer menamakan dirinya “Kuli IT”

Orang yang bekerja, tentu saja ingin penghasilannya besar, beberapa programmer menganggap apabila ada seseorang yang “stuck” hanya jadi programmer saja, itu pertanda orang tersebut kurang berkembang, yak kebanyakan mimpi kolega-kolega saya adalah menjadi system-architect atau bahkan ada yang bermimpi ingin menjadi seorang CIO (Chief Information Officer), sebuah mimpi yang besar, yang kalau bisa dicapai akan mendapatkan sebuah kebanggaan dan juga kekayaan yang lebih besar ketimbang seorang programmer

Lalu pertanyannya, jikalau posisi system-architect demikian mengkilap atau posisi CIO demikian menggiurkan, mengapa saya tidak mau menggapainya ?, apakah karena saya takut tantangan ?, apakah karena saya malas bekerja keras untuk menggapainya ?, hmm jawabannya bisa iya bisa tidak, tetapi yang pasti alasan utama saya ingin tetap menjadi programmer adalah karena saya cinta menulis kode, ratusan kode yang saya tulis merefleksikan hasrat saya, bagi saya baris-baris kode tersebut adalah ibarat baris puisi yang ditulis oleh pujangga yang sedang dimabuk asmara, saya menemukan kebahagian di dalamnya, suatu anugerah yang diberikan Allah SWT kepada saya, apalagi menjadi programmer adalah keinginan saya sejak mengenal komputer. jikalau saya telah menemukan telaga kebahagiaan dari menulis kode ?, mengapa saya harus melepas peran itu demi jabatan yang lebih tinggi ?, jangan salah sangka, bukannya saya tidak mau menjadi CIO ?, kalaupun suatu saat nanti saya mendapat peran yang lebih tinggi, saya tetap tidak akan melepas hobi saya menulis kode, lagipula ada beragam hal yang positif apabila anda tetap mengerjakan pekerjaan “kuli” walaupun jabatan anda sudah lebih tinggi daripada sekadar kuli

1. Memotivasi bawahan
saya ingat beberapa tahun lalu punya atasan yang jabatan resmi beliau adalah CTO (Chief Technology Officer), dia membawahi 2 orang system analyst, 4 orang programmer dan 1 orang web desainer, dari skema ini terlihat perusahaan kami tidaklah besar, tetapi walaupun begitu, menurut pandangan saya cukuplah bagi beliau berperan hanya memimpin team, mengevaluasi sistem dan mengarahkan bawahannya, tidak perlulah beliau turun jauh ke bawah, tetapi apa yang waktu itu terjadi ?, beliau juga ikut urun rembug memecahkan masalah kode, ikut menulis kode juga side-by-side dengan kami dalam satu ruangan yang sama, ketika aplikasi mau rilis, beliau juga tidak sungkan-sungkan untuk ikut lembur, kode yang beliau tulis mungkin tidaklah sebanyak yang kami tulis, tetapi kehadiran beliau di tengah-tengah kami bagi saya, sangat memotivasi. saya lebih respek kepada pemimpin yang ikut terjun ke lapangan, daripada hanya pemimpin yang ongkang-ongkang kaki yang cuma bisanya menyuruh-nyuruh saja

2. Lebih mengerti permasalahan yang dihadapi para “kuli”
ini terkait dengan no 1, seorang pemimpin di organisasi perusahaan software IT, apabila ikut terjun coding, akan lebih mengerti permasalahan yang dihadapi oleh programmer, dengan demikian empati yang bersangkutan menjadi lebih besar, imbasnya dalam menghadapi persoalan akan lebih seirama dengan programmer, ini menjadi problem-solver yang efektif, sesuai dengan tujuan perusahaan software IT yang didirikan untuk menjadi problem-solver dengan masalah bisnis yang ada. Empati yang kecil dari atasan sebaliknya alih-alih menjadi problem-solver, malah bisa menjadi problem-creator. Bayangkan saja apabila boss anda marah-marah tanpa mengerti permasalahan yang ada ?, yang dia mau hanya ingin software selesai dibangun pada waktunya ?, apakah tipe seperti ini akan menjadi problem-solver atau sebaliknya problem-creator ?

3. Lebih didengar oleh bawahan

Berapa banyak system analyst yang “dilecehkan” para programmernya, ketika dia berencana membangun aplikasi dengan sebuah bahasa pemrograman tetapi sang system analyst tersebut sama sekali tidak menguasai bahasa pemrograman tersebut ? well jawabannya : saya tidak tahu pasti berapa, tetapi saya pernah mengalami berada dalam team seperti ini, system analyst tersebut tidak dianggap, malah alhasil desain aplikasi lebih di-drive oleh para programmernya, situasi sedikit kacau balau, karena setiap kali diskusi sering ada “gap” komunikasi antara system analyst dan para programmernya. so jika saja si system analyst memahami bahasa pemrograman tersebut dan cara terbaik dalam memahami sebuah bahasa pemrograman adalah dengan menulis kodenya, dia akan lebih dihormati oleh programmernya, imbasnya dia akan lebih didengar sehingga tim pun menjadi lebih solid

Contoh-contoh di atas adalah contoh pengalaman saya di perusahaan kecil, lalu bagaimana dengan perusahaan besar ?, adakah pemimpinnya yang tetap menulis kode walaupun telah menjabat jabatan paling tinggi, well saya akan coba membuat daftarnya
1. Jonathan Sachs (Lotus Development co-founder)

Pernah mendengar Lotus 1-2-3 ?, kalo iya anda sudah tentu tahu bahwa Lotus 1-2-3 demikian sukses pada era 80-an sampai awal 90-an, mungkin kalo disamakan dengan zaman sekarang, boleh dibilang kepopuleran Lotus 1-2-3 sama dengan kepopuleran Twitter :D . Jonathan Sachs bersama Mitchell Kapor menemukan Lotus Development Corporation, peran Jonathan Sachs awalnya adalah seorang programmer, sampai perusahaan tersebut besar dan dia membawahi ratusan karyawan dia tetap saja masih ikut menulis kode

2. Matt Mullenweg (Automattic & Wordpress founder)

ini sih sudah nggak perlu saya jelaskan lagi, kalo anda blogger anda tentu mengetahui siapa sebenarnya yang bersangkutan ?, ya dia adalah penemu wordpress, sebuah platform blog yang sangat populer, Matt sekarang adalah CEO Automattic, perusahaan yang bergerak di belakang wordpress, walaupun sekarang sudah menjadi CEO, Matt masih berkontribusi untuk menulis kode wordpress
3. Paul Graham (Viaweb & YCombinator founder)

Viaweb mungkin terdengar asing di telinga orang indonesia, namun kalo saya sebut Yahoo Store, anda mungkin pernah mendengar produk tersebut, yak Viaweb adalah sebuah platform web dimana orang bisa membuat toko online sendiri secara instan, di indonesia tipe website seperti ini baru trend tahun-tahun belakangan ini (contoh : tokopedia.com, tokobagus.com, krazymarket.com) sementara Paul Graham membangun Viaweb di akhir tahun 90-an dan dengan cepat menjadi populer, kepopulerannya diendus oleh Yahoo dan akhirnya Yahoo membelinya dan mengubahnya menjadi Yahoo Store
Sekarang Paul Graham membidani perusahaan bisnis inkubator yang fokus dalam mendidik dan mencetak founder perusahaan IT bernama YCombinator!, di tengah-tengah kesibukan mendidik para calon pengusaha IT yang sukses, Paul Graham masih tetap menulis kode, diantaranya yang paling dia kuasai adalah menulis dalam bahasa pemrograman yang menurut saya eksotis, yaitu LISP

4. Max Levchin (Paypal CTO/Co-founder)

Max-Levchin hanya tertarik terhadap security programming terutama dalam bidang kriptografi, dan dia memang awalnya membuat perusahaan yang fokus terhadap bidang security, terutama security di Handheld-device, cuma karena bisnis di Handheld ini terlihat mandek, yang bersangkutan malah switch dan mengubah perusahaannya menjadi Paypal, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pembayaran online, Paypal dengan cepat populer terutama sering digunakan dalam transaksi Ebay, dari luar Paypal terlihat sebagai perusahaan yang bergerak di bidang finansial, tetapi Max sendiri berkata lain, dia malah bilang “Paypal sebenarnya adalah perusahaan security yang berpura-pura menjadi perusahaan Finansial”, yak paypal menjadi populer karena terkenal keamanannya terutama dalam menghadapi fraud, Paypal akhirnya dibeli oleh Ebay, Max sendiri sekarang mamimpin Divisi paypal di Ebay dan masih concern terhadap permasalahaan security programming yang ada di paypal

5. Ben & Mena Trott (Six Apart Founder)

Pasangan suami istri ini adalah penemu Six Apart, sebuah perusahaan IT yang menelurkan produk-produk blog, diantaranya yang paling terkenal adalah MovableType (MT), mereka berdua murni seorang Geek, yang menulis kode MT di apartemen yang kecil yang mereka sewa, mereka sangat terobsesi dengan blog, sampai-sampai dalam pengembangan MT mereka pernah bekerja tak kenal henti, sabtu - minggu tetap coding, ketika MT mulai membesar dan orang-orang menyarankan mereka sebaiknya membuat perusahaan, mereka malah kebingungan, Mena bilang dia dan suaminya adalah tipe orang yang nggak pernah keluar rumah yang hanya fasih berhubungan dengan komputer, membuat sebuah perusahaan adalah sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan, tetapi karena MT sedemikian populer, dengan “terpaksa” mereka membuat perusahaan dan me-launch versi MT yang berbayar bernama TypePad. sekarang SixApart telah mempunyai ratusan karyawan dan bahkan telah punya cabang di Jepang dan Eropa, di tengah-tengah kesibukan sebagai pemimpin SixApart mereka masih tetap ikut menulis kode, hasrat mereka bukan untuk membuat perusahaan, hasrat mereka hanyalah menulis kode dan menulis kode

6. Joel Spolsky (Fog Creek Software Founder)

kalau anda seorang web programmer dan anda tidak mengenal siapa orang ini, menurut saya kebangetan he he, tips-tipsnya mengenai programming dan arsitektur software di blognya Joel on Software sangat terkenal diantara para Geeks, Joel Spoelsky selain seorang Blogger yang terkenal dia adalah juga seorang penemu Fog Creek software, produk utamanya adalah software issue & bug tracking berbasis web yang dikenal dengan nama FogBugz, di tengah-tegah kesibukannnya sebagai seorang CEO Fog Creek dia masih tetap meluangkan waktunya untuk tetap menulis kode

Dan masih banyak lagi orang yang menulis kode program walaupun telah menjabat jabatan yang lebih tinggi, di bidang lain, di Indonesia saya teringat dengan Bob Sadino, dia walaupun sekarang telah menjadi luar biasa kaya, tetapi dia masih tetap rutin mendatangi Kem Chicks, turun langsung berinteraksi dengan pelanggan
So bagaimana dengan anda wahai programmer ?, maukah anda menjadi programmer seumur hidup ?, silahkeun komentar di sini :D

Referensi : Founders at Work: Stories of Startups Early Days

Dec29

Laptop tercipta karena keterbatasan Komputer tuk dibawa kemana-mana,
Banyak orang Beli motor karena keterbatasan angkot yang rutenya nggak fleksibel
TV tercipta karena keterbatasan radio yang cuma bisa memberi hiburan lewat telinga

Ketika Steve Wozniak menciptakan sebuah komputer bernama Apple I, bukan berarti dia saat itu adalah orang kaya, TIDAK !!! dia menciptakan Apple I karena dia miskin, karena dia nggak sanggup membeli Micro-computer yang walaupun disebut micro tapi gedenya minta ampun dan harganyapun hampir seharga uang muka rumah, yang dia inginkan dia hanya ingin punya komputer, alhasil di tengah keterbatasan-nya dia berhasil membuat komputer yang lebih kecil,yang chipnya lebih sedikit, yang bahkan monitornya dia buat dari Televisi yang dia punya, komputer kecil ini adalah cikal bakal suatu jenis komputer yang bernama Personal Computer yang berarti komputer murah yang bisa digunakan secara pribadi di rumah, dari hasil jerih payahnya bertahun-tahun kemudian siapa sih yang tidak gemas apabilan melihat ciamiknya komputer Mac ?, the most innovative product yang pernah ada pada zamannya

Ketika Bill Gates dan Paul Allen mendirikan perusahaan software mereka yang namakan Microsoft, apakah pada waktu itu perusahannya diperhitungkan di kancah perkomputeran ?, TIDAK.. mereka cuma sekelompok anak muda yang gila akan komputer, yang cuma pengen ngoprek dan ingin membuat OS (berbasis grafis-> pada saat itu mereka belum membuat OS berbasis GUI) yang bisa digunakan dgn mudah oleh mereka sendiri, dan bahkan pada peluncuran Windows versi pertama saja, tidak banyak orang yang tahu, karena memang OS itu penuh bug, tapi apa yang terjadi ?, hasil kenal lelah berbagai perbaikan dari versi 1.0 menuju versi 2.0 dan menuju versi 3.0 yang akhirnya booming, hebatnya booming itu terus berlanjut sampai sekarang yang sudah jauh lebih canggih yang dinamakan Windows 7, di tengah berbagai keterbatasan toh Microsoft mampu menciptakan OS yang sampai sekarang menjadi legenda, OS yang menguasai dunia yang bahkan setiap orang yang pernah belajar komputer pasti tau akan OS yang user-friendly ini

Ketika Linus Torvald menciptakan Linux untuk pertama kalinya, dia bukanlah siapa2, cuma mahasiswa ingusan yang pengen mempelajari Unix, tapi nggak bisa karena lisensi unix sangat mahal, pada waktu itu sebetulnya ada versi unix yang lebih kecil yang tersedia free, bernama minix, tapi kemampuan minix ini sangat terbatas, sehingga Linus kurang puas, yang dia inginkan adalah mempelajari Unix, alhasil dia bikin clone Unix yang sederhana, dan pertama kali disebarkan secara bebas di mailing-list, sungguh tidak terduga, ternyata banyak orang yang mencobanya, karena masih sangat baru terjadi error di sana-sini, dan karena Linux dirilis secara bebas, beberapa orang malah memperbaiki error-nya langsung saat itu juga, hasil kerja kolektif ini masih berlangsung sampai saat ini yang hebatnya tanpa campur tangan perusahaan komersial, salah satu proyek ajaib open source ini bernama Linux, lahir dari hal yang serba terbatas, tetapi sekarang telah menguasai pangsa pasar OS Server di dunia dan didistribusikan secara FREE!!

Terbatas itulah kata dan situasi ajaib yang meyebabkan nobody menjadi somebody, Keterbatasan itulah yang bisa menyebabkan proses kreatif terjadi, kalo contoh di bidang teknologi belum cukup, ingatkah kita bagaimana Nabi Muhammad SAW, mencoba menyebarkan agama islam ?, beliau bahkan lahir dari bangsa yang tidak diperhitungkan, bangsa arab yang jahiliyah, yang kecil, yang boleh dikatakan hampir tidak punya moral dan bahkan tidak dipedulikan oleh kekaisaran Persia di timur dan kekaisaran Romawi di barat, tapi apa yang terjadi ?, dari kegelapan beliau membawa cahaya, berhasil menyebarkan Islam hingga ke seluruh dunia, dari bukan siapa-siapa beliau menjadi salah satu manusia yang paling dihormati oleh pengikutnya dan paling disegani oleh musuhnya , hingga kini ajarannya telah dianut oleh 1/3 populasi manusia bumi

Jadi bersyukurlah kalo kita sekarang hidup dalam keadaan serba terbatas, serba susah, karena dari keterbatasan lah pribadi kita bisa ditempa, proses kreatif lebih efektif dilakukan, Pedang yang tajam tidak lahir dari tempaan yang lembut, ianya mesti dibakar, dipukul berkali-kali agar besi yang kotor dan tak berguna itu bisa sanggup, menyayat angkuhnya zaman..

so, SMANGAAAAAAD

*artikel ini cuma buat motivasi diri sendiri, soalnya saya sekarang sedang punya suatu rencana, tapi karena keterbatasan, rada takut untuk mengeksekusinya*

Sep30

Bukan, bukan menganggur setelah lulus kuliah atau menganggur setelah lulus sekolah, tetapi yang saya maksud adalah menganggur setelah sekian tahun bekerja plus anda telah berkeluarga, namun tiba-tiba anda dipecat ?, gimana ya rasanya ?

Saya pernah merasakannya, pada awalnya tidak ada rasa sakit atau gelisah, karena bagi seorang programmer, dari sejak pertama kali bekerja sekitar 5 tahun lalu, saya selalu diberi kemudahan untuk diberi mendapatkan pekerjaan atau proyek, tetapi tidak dengan apa yang saya rasakan beberap bulan lalu, semua proyek saya kolaps dalam waktu yang hampir berbarengan, awalnya sih saya tidak terlalu khawatir, seminggu cari proyek sana sini ditolak masih santai, saya mahfum karena jangka waktu dari pengajuan proposal sampai diterima dalam suatu proyek itu biasa memakan waktu sampai 4-6 minggu, 2 minggu berlalu masih tenang main Pro Evolutions Soccer, 3 minggu berlalu masih tenang cengar-cengir di Facebook, 6 minggu berlalu mulai khawatir, 2 bulan berlalu mulai cemas dan mulai kencangkan ikat pinggang, potong pengeluaran sana sini, 3 bulan berlalu stress, 4 bulan berlalu gelisah, seperti orang bingung, bahkan saya pernah ke kamar mandi dan nggak tau mau ngapain saking gelisahnya. Sudah ratusan proposal saya kirim, ratusan pula itu ditolak. Saya pun merenung kenapa ini bisa terjadi. Di bawah ini adalah beberapa alasan kenapa itu terjadi

  • Kurang waspada terhadap situsasi ekonomi, terutama setelah terjadinya krisis ekonomi pada akhir tahun 2008 lalu, semua client saya adalah perusahaan start-up yang baru berdiri yang pembiayaannya didanai oleh Angel Investor/Venture Capital, tentu saja ketika mengembangkan produknya (semuanya website), mereka belum mencetak laba, ketika krisis datang, daya beli masyarakat menurun, situasai ini membuat perusahaan tersebut sulit menjual produk/service-nya, nah karena Angel Investor/Venture Capital itu hanya peduli dengan laba yang harus segera kembali, perusahaan jadi tertekan, so akhirnya merekapun menguatkan team marketing dan memperlambat development, imbasnya mereka membuang beberapa tenaga developer yang boleh dibilang skillnya biasa-biasa saja
  • Kurang tanggap terhadap kompetisi, ini ada kaitannya dengan pengetahuan, ketika sebelum krisis praktis tidak ada peningkatan pengetahuan dari saya, saya belajar hanya seadanya, kalau dikasih tugas yang baru, saat itu baru belajar, jadi tidak ada inisiatif sendiri bagi saya untuk belajar terutama yang terkait dengan keahlian saya, jujur saat itu saya memang terlena, sudah puas dengan diri saya, kebetulan permintaan pembuatan website juga banyak, jadinya demand yang tinggi menyebabkan programmer yang kemampuan biasa-biasa saja terserap oleh pasar tenaga kerja telecommuting. Setelah krisis, demand menurun, pasar pun sesak, mereka yang skillnya tidak kompetitif tentu saja dibuang (kata sopannya sih, di-suspend dulu, baru nanti kalau produk sudah mencetak laba, akan ditarik lagi) yang kompetitif tetap tinggal dan tetap mengembangkan produk terutama menangani fitur yang sangat vital
  • Hanya mementingkan besarnya nilai proyek, saya baru menyadari sikap seperti ini adalah buruk, karena pikiran kita jadi tidak fokus dengan proyek yang ada, alih-alih malah tergiur dengan proyek lain yang belum didapat, sampai suatu saat saya pernah menelantarkan suatu proyek yang belum selesai dan mengambil proyek yang lebih besar,sikap ini buruk karena, kita akan sulit mengembangkan hubungan jangka panjang dengan client, sementara hubungan jangka panjang penting dibangun agar kita bisa survive, agar kita bisa membangun reputasi, dengan adanya reputasi dan trust, client tidak akan pindah ke lain hati, ketika krisis terjadi dia kemungkinan besar mempertahankan kita karena walaupun skill kita biasa-biasa saja, kita jadi lebih tau terhadap produk yang dibangun karena kita bekerja lebih lama dengan ybs

Dari akibat di atas dan pengalaman yang saya alami ini, saya pun mulai merenung dan belajar dari rasa sakit, mencoba berpikir bagaimana menjegah kejadian di atas tidak terulang lagi, berikut adalah apa yang saya pikirkan

  • Berdamai dengan pekerjaan kita, Apapun kondisi pekerjaan kita, sebenci apapun kita terhadap kolega atau boss, serendah apapun penghasilannya, tetapi kalau anda masih bisa survive hidup, percayalah itu lebih baik daripada tidak punya penghasilan sama sekali, oleh karena itu bagi saya pribadi kejadian ini menjadi cambuk bagi saya untuk bersyukur dengan rezeki yang didapat sekecil apapun
  • Peka terhadap sekeliling, kejatuhan itu saya rasa tidak terjadi seketika, terutama dalam bidang telecommuting, saya rasa selalu ada tanda-tanda awal sebuah produk/perusahaan/situasai ekonomi akan jatuh. hanya waspada dan peka saja yang bisa membuat kita mendeteksinya sejak dini
  • Khawatirlah apabila ketika deliver pekerjaan client tidak mengucap “Very Good” atau “Thanks”, inilah bibit2 ketidakpuasan yang kalau dibiarkan nanti bisa meledak, sekarang saya selalu mencari kedua kata itu, kalau client tidak mengucap kata itu berarti ada yang salah dengan yang saya deliver, sekarang saya kan selalu berusaha konfirmasi tanya dengan detail apa yang salah. Dan begitu yang tidak dikehendaki client terdeskripsikan dengan jelas, cepat-cepat perbaiki dan saat itu juga beri konfirmasi bahwa kita sedang memperbaikinya. ini penting dilakukan supaya client menilai apa yang kita deliver adlaah benar-benar pekerjaan yang berkualitas bukan pekerjaan yang biasa-biasa saja
  • Loyalitas, menjadi kutu loncat mungkin bisa berpenghasilan lebih tinggi ketimbang menjadi orang yang loyal, tetapi jadi kutu loncat menuai resiko untuk jatuh karena proyek yang baru tidak menjamin akan menghasilkan kerjasama dalam waktu yang panjang, so sekarang saya lebih baik memilih loyal, tidak terlalu memikirkan pohon sebelah, fokus mengembangkan pohon yang sudah ada, toh kalau pohonnya suatu saat nanti berkembang menjadi besar, kita yang andil memeliharanya masa iya tidak mendapat buahnya
  • Berhemat, Menabung & Investasi, saya adalah seorang yang Self Employee, bukan seperti karyawan yang dari sisi kontrak punya jaminan mendapatkan penghasilan setidaknya dalam waktu 1 tahun ke depan, menjadi self-employee kita tidak akan pernah tahu apakah besok masih bisa mendapatkan uang ?, apalagi dalam dunia telecommuting client bisa dengan mudah “memecat” kita kalau dia merasa tidak puas. Lebih bagus lagi kalo menabung tersebut disertai investasi, hanya memang investasi ini juga harus siap-siap memahami dan mengelola resikonya
  • Pindah kuadran ke Business Owner, walau bagaimanapun Business Owner lebih safe ketimbang Self Employee, menjadi Business Owner bisa mengerjakan beberapa proyek sekaligus dalam satu waktu, dimana kalau kita kehilangan sebuah proyek masih ada proyek yang lain yang bisa meng-cover biaya operasional, ya ini memang cita-cita dan jalannya juga masih panjang, masih tertatih-tatih untuk belajar memanage modal, waktu, diri sendiri dan co-worker
  • Jangan pernah berpikir tidak akan pernah jatuh, khususnya ketika situasi telah membaik, situasi ekonomi yang membaik terkadang menjadi racun dan membuat kita terlena, saya sekarang selalu berusaha belajar dari masa lalu yang ada (termasuk sejarah dari dunia bisnis IT), lagipula kita ini tidak bisa mengkontrol rezeki, rezeki akan selalu mudah dicabut oleh Alloh SWT, jadi selalu waspadalah dengan cara bersyukur dan fokus terhadap pekerjaan yang ada
  • dan senjata terakhir, Pasrah dan Berdoa, saya rasa senjata terakhir inilah yang membuat saya akhirnya mendapat proyek lagi, kebetulan orangtua terus-terus berdoa sepanjang ramadhan kemaren, alhamdulillah kombinasi berkahnya Ramadhan, Doa orangtua dan terus-terusan mengirim proposal akhirnya membuat saya, 1 minggu sebelum lebaran, mendapat proyek lagi, walaupun itu diperkirakan hanya berdurasi 4 bulan, tak apa waktu 4 bulan tersebut mudah2an bisa saya gunakan dengan maksimal untuk membangun reputasi saya kembali, untuk membangun hubungan yang baik dengan client, toh kalau client nanti puas, saya yakin yang bersangkutan akan kembali ke pangkuan saya aamiin :)

Nah bagaimana dengan kawan2, apakah pernah merasakan pengalaman pahit seperti ini ?, bagaimana mengatasinya ?, silahkan share di sini

permalink : http://adityakircon.blogsome.com/2009/09/30/menganggur-rasa-pelajarannya/