Aug19

Warning : mungkin ada spoiler di postingan ini

After 700 years … of doing what he was built for, he was discover what he was meant for

Wall-E adalah cerita tentang sebuah robot mungil pengelola sampah, yang lupa dimatikan sebelum semua manusia pergi ke luar angkasa, selama beratus-ratus tahun dia tinggal sendirian di bumi, kecuali pada tahun 2805, “hidupnya” ditemani oleh seekor kecoa, pada tahun yg sama pula Wall-E jatuh cinta kepada sebuah robot bernama Eve, yg dikirim dari luar angkasa (pesawat AXIOM) untuk meneliti apakah masih ada tumbuhan di Bumi, pertemuan Eve dan Wall-e pun terjadi, dan kisah hebat pun dimulai

Sebetulnya ketika mendengar tentang film ini awalnya biasa-biasa aja, ada niatan untuk menonton tapi tidak terlalu excited, sekedar untuk menghibur diri, apa lagi terkenal kalo film-film buatan Pixar itu biasanya lucu dan artwork-nya yang mantap, jd memang hanya itu saja ekspektasi saya

Namun setelah menonton kurang-lebih 2 jam, ternyata saya mendapatkan lebih dari itu, bagaimana tidak ? film Wall-E kali ini penuh dengan kritikan pedas terhadap kehidupan umat manusia secara keseluruhan, bagaimana dampaknya bila manusia terlalu tergantung dengan teknologi ?, bagaimana dampak dari kapitalisme dan konsumerisme ?, bagaimana dampak bila manusia tak peduli dengan lingkungan ?, bagaimana automatisasi yang dipergunakan secara berlebihan bisa menjadi alat yang yang ampuh untuk me-dehumanisasi manusia ?, ya manusia eksis tetapi jiwanya tidak, uh sungguh mengerikan

Untungnya karena film ini dikemas dengan apik, kesan kengerian itu tidak muncul secara brutal, apalagi interaksi Wall-e dengan Eve maupun Wall-e dengan kecoak dikemas sangat lucu, dan hebatnya tanpa perlu dialog, gerak tubuh dan mimik wajah digambarkan dengan baik oleh Pixar sebagai alat bantu komunikasi, 2 jempol saya tujukan buat pixar untuk hal ini

Sebetulnya saya merasa rada absurd tentang keberadaan robot-robot ini, terutama Wall-E, Eve dan MO digambarkan punya emosional, bagaimana mungkin hanya mereka bertiga saja yang punya perasaan sementara yang lain tidak, tapi di sisi lain itu tidak terlalu membuat saya terganggu, karena justru itu sarkasme yang mereka bertiga tampilkan menjadi terasa, seolah-olah menyindir, robot saja punya jiwa kemanusiaan ?, kenapa manusia tidak ?

Selain itu yang paling menarik dari film ini adalah sisi romantisnya, lucu, sedih sekaligus bahagia selang-seling ditampilkan oleh pixar untuk menggambarkan romansa antara Wall-E dan Eve, apalagi waktu mereka pertama kali berkenalan, lucu bangetz dan saya juga suka lagu backgroundnya, agak2 berirama taun 70-an gitu

Well, akhir kata saya beri nilai 9/10 untuk film ini, nilainya menurut saya sama dengan finding nemo yg juga merupakan master-piece dari pixar, untuk film tahun ini Wall-e hanya kalah dari The Dark Knight menurut saya

Note : Image taken from http://www.impawards.com/2008/wall_e.html

Jun12

SPOILER WARNING !!!

Gennosuke & Oboroya ya ya , aku tahu aku tahu, mungkin kalian yang sudah pernah menonton film ini berkomentar, endingnya payah dan tidak menarik, hmm benarkah ?, ku rasa tidak, aku justru tidak bisa membayangkan ending seperti apa yang akan terjadi apabila Oboro of Tsubagakure dan Gennosuka of Koga Manjitani bertarung, mungkin kita bisa saja berspekulasi ending tersebut akan menarik karena keduanya memiliki skill shinobi yang paling dahsyat. Tetapi menurut pandangan melankolis korelis romantis (apaan siy :D ) pertarungan itu 100% tidak bisa diterima, dan aku setuju dengan penulis skenario bahwa harus ada pengorbanan disini, pengorbanan dengan kesan sederhana, maka Gennosuke lebih baik mati dan rela ditusuk oleh bidadari yang dicintainya oboro tanpa melalui pertarungan dahsyat hanya demi sebuah CINTA. Dengan begitu mereka sudah membuktikan bahwa CINTA bisa diwujudkan dengan sebuah momen yang sederhana dalam kenyataan dan bukan di dalam momen yang rumit di dalam impian seperti yang mereka sangkakan pada awalnya

Pengorbanan, itulah esensi yang sangat menarik yang aku ambil dari Film ini, tanpa pengorbanan sesuatu tidak akan langgeng ataupun bertahan, karena pengorbanan mata oboro lah maka kedua desa bisa terselamatkan, karena pengorbanan hotarubi lah oboro bisa memaknai dan melihat kegunaan dari sesuatu tidak hanya dari fisiknya saja, karena berkat kepahitan kematian hotarubi bisa membuat oboro berpikir menyeluruh dan cermat sehingga dia tidak mengambil kesimpulan atau penilaian terlalu prematur terhadap neneknya yang telah mengirim hotarubi dalam pertarungan itu. Pengorbanan pula yang membuat Yakusuzhi Tenzn menginginkan kematian, itu adalah sesuatu yang sangat diinginkannya mengingat dia tidak bisa mati dan mengalami penderitaan hidup selama 300 tahun, dia juga memilih mengorbankan saudara-saudaranya sebagai shinobi dan berharap shinobi menemui kepunahan dengan memberi peta rahasia letak kedua desa kepada Hanzo Hattori III

Dari sisi teknologi, efek yang dihasilkan dalam film ini tidak kalah dari Film2 Hollywood, bahkan menurutku lebih baik ketimbang film2 Hollywood (he he maklum fanatik Nippon siy :-p), terus terang aku sangat terkesan dengan pertarungan antara Yashamaru dan Chikuma Koshiro, ini adalah pertarungan terbaik dari semua pertarungan yang ada di Film ini, mengejutkan memang, Chikuma Koshiro yang sepertinya akan kalah ternyata pada akhirnya bisa menang dengan memanfaatkan kelemahan Yashamaru yang sudah terlanjur meremehkan Chikuma

Cerita shinobi ini sebenarnya sederhana yaitu pertarungan 2 kubu pendekar , 5 orang lawan 5 orang, tapi bukan jepang namanya yang bisa meramu cerita sederhana menjadi hebat, inilah yang dari dulu aku suka dari Film2/Game/Komik2 Jepang, cerita selalu di atas segalanya, mendalam, berkesan dan bisa membuat emosi penonton cukup terkuras, tambah lagi dramatisir yang mengena di jiwa, TOP BANGET, so bagi kalian yang sedang mencari Film Keren dan sedang mencari eksotisme ala jepang di masa lalu, kusarankan kalian memilih shinobi sbagai Film yang akan kalian tonton