Jan09

Baru aja dapat pelajaran yg menarik dari seseorang, katakanlah ybs namanya Asep, Asep ini seorang pengusaha, dia bercerita suatu saat pelanggannya berkata spt ini

“Sep diantara orang2 yg pernah nawarin servicenya ke sayah, service yg kamu tawarkan teh bukan yg termurah, bukan juga yang kualitas terbaik, kamu juga bukanlah yang paling berpengalaman, tapi kenapa sampai skrng sy teh seneng sama service kamu ?, karena sejauh ini kamu orangnya paling enak diajak ngobrol, paling menyenangkan buat diajak kerja bareng, kalau kata orang bule depok mah kamu teh orangnya Personable (yg terakhir ini mah sy deng yg nambahin, gak ada kata2 ini sebenarnya hahaha)”

Itu Asep, seorang pengusaha kecil dan menengah, di perusahaan kelas dunia, ada zappos.com, perusahaan IT terkenal di amerika yg menjual sepatu, yg menarik zappos terkenal bukan karena sepatunya, sepatunya mungkin biasa2 aja, sama aja lah kualitasnya seperti sepatu yg dijual di toko biasa, tetapi zappos terkenal karena kualitas customer-servicenya, pernah ada seseorang yang menelpon lama sekali ke customer service, tahukah apa yg dia bicarakan ?, orang ini curhat mengenai masalah keluarganya, gak ada sama sekali hubungannya dgn sepatu, tapi si customer service melayaninya sepenuh hati seakan-akan dia akan membeli sepatu, orang tsb pada akhirnya memang nggak beli sepatu, tetapi dia terpuaskan dgn layanan kelas satu tsb, berita itu otomatis akan tersebar dari mulut ke mulut ke teman-temannya, imbasnya teman-temannya sangat mungkin untuk beli sepatu dari zappos hanya karena customer-servicenya yg “Personable”

Terus terang kedua cerita ini bikin si sayah merinding & merenung, dipikir2 bener juga he he, jd teringat Rasulullah SAW, kenapa ketika berdagang, beliau termasuk enterpreneur yg sukses, dagangannya mungkin bukan kualitas terbaik, bukan yang termurah, bukan pula yang paling berpengalaman (Rasul berdagang umurnya di bawah 20), sederhana saja, dagangan beliau sangat laku karena Akhlak-nya no1, Pribadinya paling menyenangkan dari semua pedagang pada zamannya

Oct28

Baru dapat ilmu baru, orang yang produktif adalah bukan orang yang bisa bekerja selama 24 jam sehari, orang yang produktif justru adalah orang yang bekerja dengan sedikit waktu tapi punya dampak yang besar

Kerja terus menerus tidak akan menyebabkan produktif, justru akan menyebabkan tidak tersisa ruang bagi kita untuk melakukan improvement serta akan menimbulkan kelelahan yang luar biasa

Ide-ide justru muncul pada saat kita relaks dan relaks bisa dapat dari tidur yang cukup (termasuk tidur siang), ketenangan (misal Shalat), hubungan yang sehat (misal becanda dengan istri :D ) , renang dan bermain Game

Jadi buat saya orang yang bisa membuat balance segalanya, itulah yang akan membuat dia produktif, tubuh ini perlu asupan yang variatif, asupan yang sama diisi terus menerus simply akan membuat tubuh mati, mati dalam kebosanan :-P

Jun14

Sillicon Valley itu bukanlah tempat, tapi itu mindset, kata-kata tersebut saya kutip dari perkataan Ari Awan, ketika saya mendengar podcast mengenai startup yang saya unduh dari sini, sebuah pemikiran yang menarik tersebut jadi mengingatkan saya bahwa yang paling penting dalam membangun bisnis itu bukanlah infrastruktur atau banyaknya uang (representasi tempat), tetapi yang harus selalu kita fokus adalah bagaimana meningkatkan kapasitas mental & pikiran (representasi dari mindset) kita agar bisnis kita selalu berkembang.

Kalau ada orang bilang Membangun bisnis itu tidak perlu modal uang, menurut saya itu benar adanya, iya karena modal yang paling penting itu sudah ada dalam diri, diberikan gratis oleh yang Maha Kuasa, seandainya anda mendapatkan uang 1 triliun dari langit dan anda tidak punya skill apapun mengenai bisnis, percayalah uang itu akan hilang cepat atau lambat. mengapa saya berani bilang seekstrim itu ?, karena saya sudah terlalu banyak melihat perusahaan jatuh karena kurangnya kompetensi pemimpinnya, satu contoh kasus terdekat saya punya saudara yang mendapatkan bisnisnya dari warisan ayahnya, ketika ayahnya dulu masih hidup, bengkelnya sedemikian sukses, bahkan saking suksesnya pernah diundang untuk datang oleh Presiden Soeharto dulu, sebuah bengkel yang diakui secara nasional tentulah punya uang yang sangat banyak, tetapi ketika diwariskan kepada anaknya, perlahan-lahan bisnis bengkel itu meredup dan akhirnya sekarang sudah tutup, kita lihat dia kurang apa ?, modal banyak, sudah punya pelanggan yang eksis, infrastruktur bengkel pun besar ?, tapi tetap saja bangkrut karena tidak adanya skill yang cukup dari pemimpinnya untuk membuat bisnis tersebut bertahan

Jadi kalo kita saat ini sedang atau mau membangun bisnis dan mengeluh karena kekurangan modal, kekurangan infrastruktur dan selalu membayangkan “jika saja punya modal uang lebih banyak, jika saja punya infrasturktur yang mumpuni, bisnis anda akan menjadi lebih baik”, percayalah menurut saya pikiran seperti itu adalah ilusi, yang sebenarnya terjadi adalah bukan infrastruktur atau modal uang yang kurang, melainkan kekuatan skill, mental dan pikiran anda yang masih lemah

Rasanya saya sudah berulang kali menceritakan, bagaimana komputer Apple dulu tercipta ?, Steve Wozniak pembuatnya bukanlah orang kaya, dia pertama kali menciptakan Apple I dengan menggabungkan beberapa parts elektronik di rumahnya, termasuk TV-nya yang dia jadikan monitor, dengan kemampuan teknis yang mumpuni tanpa infrastruktur dan uang yang banyak pun anda bisa membangun sebuah produk handal, ditambah lagi dengan kemampuan marketing Steve Jobs yang pantang menyerah, singkat cerita kita lihat bagaimana suksesnya Apple sekarang ?, perusahaan paling Inovatif yang pernah ada di dunia

Jangan salah sangka, saya sama sekali tak berniat menafikan Infrastruktur, saya cuma ingin menegaskan bahwa ada yang lebih penting dan yang lebih mendesak untuk dikembangkan, prioritasnya adalah lihat dulu modal di dalam diri sebelum anda melihat modal yang diluar, jangan terbalik seperti yang kita sering lakukan modal dalam diri diabaikan sementara terlalu fokus memikirkan dengan modal yang ada di luar, percayalah kalo modal di dalam diri anda sudah kuat, bahkan orang-orang akan dengan sendirinya berlomba-lomba menanamkan uang di perusahan anda, see ? pada tahap ini anda bahkan sudah tidak perlu merogoh kocek sendiri untuk mengembangkan bisnis

Well akhir kata, saya sendiri sebetulnya belumlah jadi pebisnis handal, tulisan di atas sejatinya adalah penyemangat buat diri sendiri dan ditulis dengan semagat berbagi, mungkin saja ada yang tertarik dengan topik serupa dan berguna buatnya, jadi kawan menurut anda sudahkah anda menemukan Silicon Valley anda di dalam diri ?