Melayang sekelabat jin infrit meniup nafas ke sana kemari
Menggoyang dada hati nurani
Bergemuruh aura bergejolak ingin terbang tinggi
Hanya waktu yang menahan esensi lain tak kurang suatu apapun
Jika kurenung esok pesona mentari ada di ufuk
Bayang-bayang ini terkesima
tapi di dalam buaian
ah ternyata ini masih mimpi
bulan masih nyaman menerima kalbu
Sel-sel darah ini mengalir mengikuti arah
Tapi hanya satu kanker yang bergerak tanpa aturan
satu kata “berani” tapi merusak
yang berkelana tidak diatas melainkan di bawah jalan
terbalik tak sesuai minoritas lagi menantang membuahkan CHAOS
mengajari itulah sesunggungnya HIDUP
Ade Malsasa Akbar
June 21, 2011 4:22 pm