Sep30

Bukan, bukan menganggur setelah lulus kuliah atau menganggur setelah lulus sekolah, tetapi yang saya maksud adalah menganggur setelah sekian tahun bekerja plus anda telah berkeluarga, namun tiba-tiba anda dipecat ?, gimana ya rasanya ?

Saya pernah merasakannya, pada awalnya tidak ada rasa sakit atau gelisah, karena bagi seorang programmer, dari sejak pertama kali bekerja sekitar 5 tahun lalu, saya selalu diberi kemudahan untuk diberi mendapatkan pekerjaan atau proyek, tetapi tidak dengan apa yang saya rasakan beberap bulan lalu, semua proyek saya kolaps dalam waktu yang hampir berbarengan, awalnya sih saya tidak terlalu khawatir, seminggu cari proyek sana sini ditolak masih santai, saya mahfum karena jangka waktu dari pengajuan proposal sampai diterima dalam suatu proyek itu biasa memakan waktu sampai 4-6 minggu, 2 minggu berlalu masih tenang main Pro Evolutions Soccer, 3 minggu berlalu masih tenang cengar-cengir di Facebook, 6 minggu berlalu mulai khawatir, 2 bulan berlalu mulai cemas dan mulai kencangkan ikat pinggang, potong pengeluaran sana sini, 3 bulan berlalu stress, 4 bulan berlalu gelisah, seperti orang bingung, bahkan saya pernah ke kamar mandi dan nggak tau mau ngapain saking gelisahnya. Sudah ratusan proposal saya kirim, ratusan pula itu ditolak. Saya pun merenung kenapa ini bisa terjadi. Di bawah ini adalah beberapa alasan kenapa itu terjadi

  • Kurang waspada terhadap situsasi ekonomi, terutama setelah terjadinya krisis ekonomi pada akhir tahun 2008 lalu, semua client saya adalah perusahaan start-up yang baru berdiri yang pembiayaannya didanai oleh Angel Investor/Venture Capital, tentu saja ketika mengembangkan produknya (semuanya website), mereka belum mencetak laba, ketika krisis datang, daya beli masyarakat menurun, situasai ini membuat perusahaan tersebut sulit menjual produk/service-nya, nah karena Angel Investor/Venture Capital itu hanya peduli dengan laba yang harus segera kembali, perusahaan jadi tertekan, so akhirnya merekapun menguatkan team marketing dan memperlambat development, imbasnya mereka membuang beberapa tenaga developer yang boleh dibilang skillnya biasa-biasa saja
  • Kurang tanggap terhadap kompetisi, ini ada kaitannya dengan pengetahuan, ketika sebelum krisis praktis tidak ada peningkatan pengetahuan dari saya, saya belajar hanya seadanya, kalau dikasih tugas yang baru, saat itu baru belajar, jadi tidak ada inisiatif sendiri bagi saya untuk belajar terutama yang terkait dengan keahlian saya, jujur saat itu saya memang terlena, sudah puas dengan diri saya, kebetulan permintaan pembuatan website juga banyak, jadinya demand yang tinggi menyebabkan programmer yang kemampuan biasa-biasa saja terserap oleh pasar tenaga kerja telecommuting. Setelah krisis, demand menurun, pasar pun sesak, mereka yang skillnya tidak kompetitif tentu saja dibuang (kata sopannya sih, di-suspend dulu, baru nanti kalau produk sudah mencetak laba, akan ditarik lagi) yang kompetitif tetap tinggal dan tetap mengembangkan produk terutama menangani fitur yang sangat vital
  • Hanya mementingkan besarnya nilai proyek, saya baru menyadari sikap seperti ini adalah buruk, karena pikiran kita jadi tidak fokus dengan proyek yang ada, alih-alih malah tergiur dengan proyek lain yang belum didapat, sampai suatu saat saya pernah menelantarkan suatu proyek yang belum selesai dan mengambil proyek yang lebih besar,sikap ini buruk karena, kita akan sulit mengembangkan hubungan jangka panjang dengan client, sementara hubungan jangka panjang penting dibangun agar kita bisa survive, agar kita bisa membangun reputasi, dengan adanya reputasi dan trust, client tidak akan pindah ke lain hati, ketika krisis terjadi dia kemungkinan besar mempertahankan kita karena walaupun skill kita biasa-biasa saja, kita jadi lebih tau terhadap produk yang dibangun karena kita bekerja lebih lama dengan ybs

Dari akibat di atas dan pengalaman yang saya alami ini, saya pun mulai merenung dan belajar dari rasa sakit, mencoba berpikir bagaimana menjegah kejadian di atas tidak terulang lagi, berikut adalah apa yang saya pikirkan

  • Berdamai dengan pekerjaan kita, Apapun kondisi pekerjaan kita, sebenci apapun kita terhadap kolega atau boss, serendah apapun penghasilannya, tetapi kalau anda masih bisa survive hidup, percayalah itu lebih baik daripada tidak punya penghasilan sama sekali, oleh karena itu bagi saya pribadi kejadian ini menjadi cambuk bagi saya untuk bersyukur dengan rezeki yang didapat sekecil apapun
  • Peka terhadap sekeliling, kejatuhan itu saya rasa tidak terjadi seketika, terutama dalam bidang telecommuting, saya rasa selalu ada tanda-tanda awal sebuah produk/perusahaan/situasai ekonomi akan jatuh. hanya waspada dan peka saja yang bisa membuat kita mendeteksinya sejak dini
  • Khawatirlah apabila ketika deliver pekerjaan client tidak mengucap “Very Good” atau “Thanks”, inilah bibit2 ketidakpuasan yang kalau dibiarkan nanti bisa meledak, sekarang saya selalu mencari kedua kata itu, kalau client tidak mengucap kata itu berarti ada yang salah dengan yang saya deliver, sekarang saya kan selalu berusaha konfirmasi tanya dengan detail apa yang salah. Dan begitu yang tidak dikehendaki client terdeskripsikan dengan jelas, cepat-cepat perbaiki dan saat itu juga beri konfirmasi bahwa kita sedang memperbaikinya. ini penting dilakukan supaya client menilai apa yang kita deliver adlaah benar-benar pekerjaan yang berkualitas bukan pekerjaan yang biasa-biasa saja
  • Loyalitas, menjadi kutu loncat mungkin bisa berpenghasilan lebih tinggi ketimbang menjadi orang yang loyal, tetapi jadi kutu loncat menuai resiko untuk jatuh karena proyek yang baru tidak menjamin akan menghasilkan kerjasama dalam waktu yang panjang, so sekarang saya lebih baik memilih loyal, tidak terlalu memikirkan pohon sebelah, fokus mengembangkan pohon yang sudah ada, toh kalau pohonnya suatu saat nanti berkembang menjadi besar, kita yang andil memeliharanya masa iya tidak mendapat buahnya
  • Berhemat, Menabung & Investasi, saya adalah seorang yang Self Employee, bukan seperti karyawan yang dari sisi kontrak punya jaminan mendapatkan penghasilan setidaknya dalam waktu 1 tahun ke depan, menjadi self-employee kita tidak akan pernah tahu apakah besok masih bisa mendapatkan uang ?, apalagi dalam dunia telecommuting client bisa dengan mudah “memecat” kita kalau dia merasa tidak puas. Lebih bagus lagi kalo menabung tersebut disertai investasi, hanya memang investasi ini juga harus siap-siap memahami dan mengelola resikonya
  • Pindah kuadran ke Business Owner, walau bagaimanapun Business Owner lebih safe ketimbang Self Employee, menjadi Business Owner bisa mengerjakan beberapa proyek sekaligus dalam satu waktu, dimana kalau kita kehilangan sebuah proyek masih ada proyek yang lain yang bisa meng-cover biaya operasional, ya ini memang cita-cita dan jalannya juga masih panjang, masih tertatih-tatih untuk belajar memanage modal, waktu, diri sendiri dan co-worker
  • Jangan pernah berpikir tidak akan pernah jatuh, khususnya ketika situasi telah membaik, situasi ekonomi yang membaik terkadang menjadi racun dan membuat kita terlena, saya sekarang selalu berusaha belajar dari masa lalu yang ada (termasuk sejarah dari dunia bisnis IT), lagipula kita ini tidak bisa mengkontrol rezeki, rezeki akan selalu mudah dicabut oleh Alloh SWT, jadi selalu waspadalah dengan cara bersyukur dan fokus terhadap pekerjaan yang ada
  • dan senjata terakhir, Pasrah dan Berdoa, saya rasa senjata terakhir inilah yang membuat saya akhirnya mendapat proyek lagi, kebetulan orangtua terus-terus berdoa sepanjang ramadhan kemaren, alhamdulillah kombinasi berkahnya Ramadhan, Doa orangtua dan terus-terusan mengirim proposal akhirnya membuat saya, 1 minggu sebelum lebaran, mendapat proyek lagi, walaupun itu diperkirakan hanya berdurasi 4 bulan, tak apa waktu 4 bulan tersebut mudah2an bisa saya gunakan dengan maksimal untuk membangun reputasi saya kembali, untuk membangun hubungan yang baik dengan client, toh kalau client nanti puas, saya yakin yang bersangkutan akan kembali ke pangkuan saya aamiin :)

Nah bagaimana dengan kawan2, apakah pernah merasakan pengalaman pahit seperti ini ?, bagaimana mengatasinya ?, silahkan share di sini

permalink : http://adityakircon.blogsome.com/2009/09/30/menganggur-rasa-pelajarannya/

Sep26

Apa itu privoxy ?, ringkasnya privoxy adalah sebuah software proxy yang mempunyai fitur untuk memblok iklan, saya memakai ini bukan karena ingin memblok iklan,tetapi karena setup-nya yang cukup mudah dan sederhana dibanding proxy laen (misalnya squid)

Mengapa saya perlu memakai proxy ?, ini dikarenakan belakangan ini Fren Mobi tidak bisa mengakses situs-situs tertentu, awalnya sih saya cuekin, toh memang situs-situs tertentu itu memang jarang saya akses, nah menjadi masalah manakala kemaren tiba2 Fren Mobi ngeblok FACEBOOK ^_^, sekali lagi saya katakan .. FACEBOOK, iya benar FACEBOOK yang itu, bukan yang laen (emang ada yg laen ?). Awalnya saya coba memakai proxy yang tersedia di internet … dari mulai proxy telkom sampe proxy2 yang banyak bertebaran tapi nggak nyala semua, terus coba Web Proxy macam di anonymousblabalbala.com, bisa sih akses Facebook, cuma ketika login diblok … karena ternyata layanan ini mesti bayar sekitar $40/6 bulan, beuh males tau … tanggal 1 masih lama :D

Belum menyerah, saya ingat punya VPS, nah coba bikin Web Proxy sendiri pake ruby on rails …setelah coba-coba, euuh ternyata ribet banget (terutama kalo nge-handle request POST, maintain session dll), ini sih gak akan selesai dalam sehari, akhirnya coba cari opsi lain, nyoba install squid, setelah install squid kelar, siap2 liat dokumentasi … BUJUG, dokumentasinya banyak bangeet, gak tau harus mulai darimana, pusing, setelah itu cari di wikipedia apakah ada proxy server selain squid yang lebih sederhana dan ketemulah privoxy, akhirnya saya coba install di VPS CentOS kesayangan saya, langkahnya sbg berikut

(asumsi anda login sebagai super user di Server anda)

install privoxy

yum install privoxy

buka config

nano /etc/privoxy/config

temukan directive listen-address, kalau di GNU Nano tinggal tekan ctrl-w “listen-address”, hapus listen-adress 127.0.0.1:8118, menjadi

listen-address 5.5.5.5:8000

5.5.5.5 adalah ip adress server anda, 8000 adalah port TCP, pastikan portnya tidak diblok oleh ISP anda atau oleh Server anda sendiri

nyalakan privoxy

/sbin/service privoxy start

seandainya privoxy gagal menyala dengan error, “can’t bind address blabalabla” itu tandanya port tersebut sudah dipakai oleh aplikasi lain, untuk melihat daftar port yang sedang dipakai bisa masukan perintah

netstat -tulpn | less

seandainya memang terpakai, anda harus mengganti dengan port lain, silahkan edit kembali file konfigurasi, setelah itu coba nyalakan privoxy

jikalau masih error juga, berarti firewall memblok port tersebut, untuk membukanya, silahkan edit konfigurasi iptables anda supaya membuka port yang anda maksudkan, caranya gmn ?, silahkan baca manual iptables, saya sendiri sih males ngedit2 konfigurasi iptables, pusing dan bikin stress, jadi saya pake cara kotor ajah matiin iptablesnya wkwkwkwwk (SANGAT TIDAK DIREKOMENDASIKAN)

matiin iptables

/sbin/service iptables stop

nyalakan kembali privoxy

/sbin/service privoxy start

nah sampai sini privoxy mestinya sudah menyala, kalo belum yah itu berarti faktor MUKA, anda kurang ganteng (woot)

setelah itu silahkan setting proxy-nya dari browser anda, kalo di firefox

preferences –> advanced –> network —> settings –> manual proxy , masukan ip address server beserta portnya

selesai deh, Happy Browsing :)

Sep07

Yah judulnya memang rada bombastis, tapi emang sengaja sih, supaya dapat perhatian yang lebih dari pembaca he he, artikel ini terinspirasi dari artikel teman saya Didiet tentang Frugal Living, intinya Frugal Living adalah hidup sesederhana mungkin, alias pengeluaran jauh lebih kecil daripada pemasukan

Ada banyak alasan mengapa orang-orang menerapkan hidup seperti ini, salah satu yang menurut saya penting adalah supaya kita bisa memberi lebih banyak. Dengan pengeluaran sedikit, otomatis sisa uang yang tersisa bisa banyak, sisa ini bisa diberikan kepada orang yang suatu saat membetuhkan terutama lagi kalau yang membutuhkan itu Saudara/Orangtua

Di bawah ini adalah beberapa hal yang bisa saya terapkan untuk menjalani Frugal Living, diantaranya

  • Jangan beli barang secara kredit, alias jangan pernah berhutang untuk beli barang yang konsumtif, kenapa ?, karena di situasi ekonomi yang gonjang-ganjing ini masa depan tidak ada yang tau, cukup banyak dari kita di tengah perjalanan kreditnya, karena sesuatu hal tidak bisa membayar cicilan, sebaliknya gunakan uang cash, saya selalu berusaha menabung untuk beli apapun secara cash, bahkan untuk membeli rumah pun, saya masih sekuat tenaga untuk tidak mengambil kredit, saya masih punya impian untuk membelinya cash
  • Kemana-mana naik kereta KRD, untuk jarak pendek di Bandung selama suatu tempat dekat dengan rel kereta, saya akan memilih memakai KRD-Ekonomi, yah memang tidak nyaman, tapi saya suka, selain cepat juga sangat murah, hanya dengan Rp 1000 saja, anda bisa menempuh perjalanan puluhan kilometer, selain itu KRD adalah tempat perenungan yang bagus buat saya, tempat di mana saya bisa bersyukur bahwa kehidupan saya ternyata masih lebih baik dibandingkan para pengemis dan pedagang itu
  • Jangan beli motor, bahkan kalau anda punya uang cash untuk membelinya, saya menolak untuk beli karena saya nggak bisa naik motor *eh*, ya ya ya ini alasan konyol ^_^, tapi saya juga punya alasan serius mengapa tidak mau membeli/mencicil motor, bagi saya transportasi jarak dekat yang ideal itu transportasi publik, selain, sekali jalan bisa menampung banyak orang, ini juga bisa menekan kemacetan dan mengurangi angka kecelakaan, sejak motor booming di indonesia sudah tidak terhitung lagi kabar kecelakaan yang melibatkan motor baik dari saudara, teman, teman istri dan lain-lain. Memakai motor secara jangka panjang juga berbahaya, terutama yang disebabkan oleh angin bisa mengakibatkan penyakit paru-paru
  • Jangan punya Handphone, bagi saya HP itu candu, banyak dari kita yang tidak hati2, mengeluarkan pengeluaran bulanan yang cukup banyak untuk membayar biaya pulsa yang digunakan untuk komunikasi yang tidak penting, saya lebih suka pakai telepon rumah, telepon rumah biasanya digunakan untuk hal-hal yang penting, kita tidak bisa mengirim sms dengan telepon rumah, sms adalah cara mudah untuk menghabiskan uang, sms memang murah, tapi dengan murahnya itu ironisnya kebanyakan kita sulit untuk mengendalikannya. alhasil ini menguntungkan operator telekomunikasi, karena sms sejauh ini adalah pendapatan utama bagi operator telekomunikasi di indonesia untuk mengeruk keuntungan. Saya pribadi sudah lebih 1,5 tahun ini tidak punya handphone, sekarang sebetulnya sudah punya itupun dipaksa, dikasih 2 bulan yang lalu oleh Ayah, dan apa yang terjadi ?, tetap saja tidak saya pakai (kecuali jam-nya :D ), alhasil nomor nya sudah masuk masa tenggang he he
  • Gunakan internet untuk mendapatkan deal bisnis, bukan hanya untuk deal-deal proyek IT, teman adik saya yang masih kuliah, bahkan bisa mendapatkan proyek tentang akunting lewat internet, tanpa tatap muka dengan sang pemberi proyek, bahkan sama sekali tidak perlu mengeluarkan biaya untuk transportasi, bahkan lebih jauh lagi, dia dapat proyeknya dari Amerika Serikat yang tentu saya dibayar dengan $US, di dunia barat proses seperti ini sudah lumrah dijalani, dan dikenal dengan nama Telecommuting
  • Jangan beli baju kecuali butuh, salah satu indikasi saatnya beli baju/celana adalah ketika membuka lemari, baju yang akan anda gunakan sudah mulai sempit, sementara 1-2 potong yang lainnya berada di cucian. Dan saya paling tidak suka beli baju karena event2 tertentu, misalnya lebaran, bukan apa-apa saya selalu heran koq, orang-orang mau-maunya berbelanja dalam masa ramai, berdesak-desakan di pasar atau bahkan di mall, sudah begitu dalam keadaan shaum kena macet pula, terakhir kali diajak berdesak-desakan ria di toko2 itu ketika saya SD, diajak ibu dan sepupu, keliling-keliling toko, masuk sana-masuk sini, bikin pusing & capek. saya sih berpikir, lebih mudah kalau beli bajunya jauh sebelum bulan Ramadhan, kan enak belinya nggak usah berdesak-desakan gitu
  • Jangan beli barang pengganti kalau barang tersebut belum benar2 rusak, kalo dalam kasus saya biasanya itu terjadi pada dompet, tas, sepatu, dan sandal, tas kalo belum sobek dan talinya belum putus ndak akan saya ganti, bahkan ketika SMP tas saya yang ada tanda tangan Hermawan (Kiper Bandung Raya) ^_^, sempat putus talinya saya jahit kembali, sepatu walaupun bolong dan haknya nggak karuan (miring2 & tipis), kalo masih bisa dipake ya tetap saya pake ndak diganti, alhasil dalam hidup saya, saya sangat jarang beli barang2 tersebut. barang-barang di atas memang kelihatan remeh temeh, dan dari segi harga kita semua yang bekerja pasti mampu untuk membelinya, tapi akan repot manakala kalau sudah kecanduan atau ingin mengikuti trend, tidak sadar sudah beli puluhan pasang sandal/sepatu/dompet/tas yang paling mutakhir dalam kurun waktu setahun
  • Sebisa mungkin tetap di rumah, kemana-kemana itu perlu biaya dan yang lebih penting lagi berpergian itu berkontribusi terhadap kemacetan dan polusi udara, berbagai hal kalau mau sebetulnya bisa dilakukan di rumah, bahkan bekerja pun bisa dilakukan di rumah. Beruntunglah, dari kecil saya memang tidak terlalu suka berpergian, waktu saya lebih banyak dihabiskan di rumah ketimbang di luar
  • Jangan merokok, ini sih sudah pasti, kecanduan adalah cara jelek untuk menghabiskan uang, lebih jelek lagi karena kita tidak bisa mengendalikan apa-apa atasnya dan yang jelek dari yang terjelek dalam merokok adalah merokok di tempat umum, sudah merusak dirinya, merusak orang lain pula *_*

Sebetulnya Saya sendiri belum bisa hidup sepenuhnya menerapkan Frugal Living 100%, ada beberapa hal yang bisa belum saya lepas, terutama yang terkait dengan komputer dan film, soal komputer ini diakibatkan beberapa tahun lalu boss mengenalkan saya dengan produk Apple, apple ini hargannya memang sedikit premium, tapi karena kadung cinta, designnya itu terlalu elegan, benar-benar nggak bisa saya lupakan, setelah sekian tahun menabung akhirnya terbeli juga, sebetulnya bagi seorang developer ini sudah termasuk berlebih, untuk kategori frugal menurut saya seorang developer cukup dengan memakai PC intel pentium III, memory 512, OS distro linux, atau kalo memang kerjanya sangat mobile, seorang developer cukup saja memakai Netbook atau Laptop 2nd

Kedua tentang Film, nggak terlalu maniak sih, cuma yah bagaimana lagi ini satu-satunya hiburan buat saya & keluarga, namun selera saya tentang film gak mau setengah-setengah, mesti maunya nonton di bioskop dan kalo filmnya bagus saya nggak segan-segan untuk membeli DVD aslinya dan kalau nggak dapat DVD aslinya, saya cari yang bajakan, tapi bukan sekadar bajakan, saya cari yang BLURAY-RIP, ini bajakan kualitas mantap dengan harga yang lumayan, walaupun kalo mau nonton Bluray saya mesti pulang ke kircon, karena hanya komputer di sana yang bisa memainkannya, sebetulnya saya bisa saja hidup frugal dengan FILM, tinggal tunggu saja beberapa tahun, toh cepat atau lambat, film tersebut akan tayang di TV indonesia, tentu saja dengan harga yang gratis

permalink : http://adityakircon.blogsome.com/2009/09/07/hidup-miskin/