Warning : banyak spoiler di tulisan kali ini, so bagi yang tidak suka sebaiknya tidak membaca postingan ini
Judul lengkapnya adalah Dyah Pitaloka : Korban Ambisi Politik Gajah Mada, buku ini bercerita tentang kehidupan Dyah Pitaloka pada saat menjelang kematiannya di tengah berkecamuknya perang bubat antara kerajaan Sunda (Pajajaran) dan kerajaan Majapahit. Novel ini ukurannya cukup kecil dengan dimensi 11 x 17,5 cm dan hanya berisi 326 halaman, tidak terlalu terkenal dan bukan pula merupakan best seller, saya membelinya hanya karena waktu itu tidak membawa uang yang cukup untuk beli Novel Gajah Mada, dan ditambah lagi waktu itu Gramedia sedang diskon besar-besaran, dengan uang Rp 12.000 saya sudah mendapatkan novel mungil ini
Namun tak dinyana, setelah beberapa minggu tertelantarkan, akhir pekan lalu saya iseng membacanya untuk mengisi waktu di malam hari karena saya tidak bisa tidur, dan ternyata WOW.. novelnya bagus sekali, apalagi Hermawan Aksan, sang penulis sangat lihai dalam menggambarkan situasi kerajaan Sunda, betapa waktu itu kerajaan Sunda sangat makmur, memiliki tanah dan pemandangan indah, penggambaran istana kerajaan pun sangat berkesan, membuat saya ingin melihatnya, entahlah apakah Kedaton Surawisesa saat ini masih ada ?, kesan indah juga diperkuat karena beberapa jam sebelumnya saya baru saja pulang dari Bekasi, selama di perjalanan ke Bandung saya melihat pemandangan dan baru menyadari kalo pemandangan tersebut indah malah setelah baca novel ini, begitulah sang penulis mampu mebangkitkan jiwa romantis saya akan Negeri Para Dewa ini (Tanah Sunda sering disebut Parahyangan, hyang berarti Dewa), DIRGAHAYU NEGERI SUNDA
Novel ini dibuka dengan mimpi buruk Dyah Pitaloka Ratna Citraresmi sang putri kerajaan Sunda, yang melihat matahari terbelah dan terjadi banjir darah dimana-mana, mimpi ini menganggunya karena dia sudah mengalami hal tersebut berhari-hari, pamannya Mangkubumi Bunisora yang mempunyai ilmu kanuragan dan mata batin yang tajam, punya firasat buruk tentang hal ini, dan benarlah firasat ini semakin menjadi-jadi tatkala ada utusan dari tanah Jawa yang berniat untuk mencari calon permaisuri buat raja mereka Hayam Wuruk, sebetulnya Hayam Wuruk sudah mencari calon permaisuri dari seluruh Nusantara bahkan sampai Mancanegara, tetapi sudah banyak lukisan yang disodorkan, sebanyak itupula lah hatinya menolak. Namun berbeda ketika lukisan Dyah Pitaloka disodorkan, Hayam Wuruk dengan pengaruh Gajah Mada akhirnya mau menerima Dyah Pitaloka sebagai permaisuri, Dyah Pitaloka memang sangat cantik, sang Pelukisnya saja berpendapat dia sudah lama tidak pernah melihat seseorang yang sangat cantik selama puluhan tahun, menurut sang pelukis, cantiknya Dyah Pitaloka setara dengan kecantikan Ken Dedes yang tersohor, permaisuri Ken Arok, Raja Singasari dulu. Sebetulnya Dyah Pitaloka bukan hanya cantik, dia juga cerdas dan menggemari koleksi kitab yang dipunyai pamannya. Dia juga sangat peduli dengan nasib perempuan di negerinya yang terpinggirkan, suatu saat nanti dia punya cita-cita untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan di negerinya. Namun apa daya cita-cita ini harus terkubur karena dia harus menikah dengan Raja yang katanya sangat tampan, demi langgengnya persahabatan kedua negeri yang bertetangga
Pernikahan ini bagi Gajah Mada punya arti penting, demi ambisi besarnya, dia sudah lama merencanakan bagaimana caranya menaklukan kerajaan sunda, jadi bagi Gajah Mada bukan kecantikannya itu yang menurutnya pantas Dyah Pitaloka bersanding dengan rajanya, Gajah Mada punya satu sumpah ingin menyatukan Nusantara, nah ketika seluruh negeri sudah takluk, hanya tetangganya kerajaan Sunda yang masih berdaulat, Hayam Wuruk yang masih berumur 20-an mengira kalau Gajah Mada tidak akan menggunakan cara licik untuk mempersatukan kedua kerajaan, karena memang dia tahu persis bahwa Gajah Mada adalah orang yang paling bisa menjaga kehormatan Majapahit, Hayam Wuruk mengira Gajah Mada tidak akan memerangi majapahit, karena leluhur majapahit dulunya adalah sama, Raden Wijaya, pendiri majapahit adalah cucu dari Prabu Darmasiksa yang merupakan penguasa Kerajaan Sunda di masa lampau, Prabu Darmasiksa sendiri yang menasehati kedua penguasa tersebut, Rakryan Ragasuci sang putera mahkota Pajajaran dan Raden Wijaya itu sendiri, dengan bunyi seperti ini
“Jangan hendaknya cucunda mengganggu, menyerang dan merebut Negeri Sunda, sebab sudah aku wariskan, bila aku tiada kelak, negeri Sunda kuwariskan kepada pamanmu sendiri Rakryan Ragasuci. Meskipun Majapahit sudah menjelma menjadi negeri yang jauh melebihi Negeri Sunda, sudah selayaknyalah kedua negeri ini saling membantu, bekerja sama dan saling mengasihi. Dengan demikian, akan tercapai keselamatan dan kebahagiaan di antara kedua keluarga besar kita. Bila negeri Sunda mengalami kesusahan, hendaknya Negeri Majapahit sungguh-sungguh memberikan bantuan. Begitu pula sebaliknya” , Gajah Mada sebetulnya tahu bahwa leluhur raja Majapahit dari negeri Sunda, namun sayangnya dia tidak tahu persis tentang nasehat tersebut.
Sementara itu, di surat lamaran, kedua belah pihak telah berjanji bahwa rombongan Dyah Pitaloka beserta ayahnya Prabu Linggabuawana akan datang ke tegal Bubat, sebuah daerah di luar kota Terawulan yang merupakan ibukota Majapahit, setelah sampai di Bubat maka rombongan Kerajaan Sunda akan disambut dan dijemput secara langsung oleh Hayam Wuruk, namun sayangnya ketika Rombongan Kerajaan Sunda telah sampai, tiba-tiba Gajah Mada mengganti rencana, bagi dia pernikahan kedua kerajaan ini bukanlah sebuah penaklukan jadi menganggap perstauan dengan pernikahan tidak akan memenuhi sumpahnya, maka dia pun mengganti rencana, bahwa Prabu Linggabuawana sendiri yang harus menyerahkan Dyah Pitaloka langsung ke Terawulan sebagai upeti, nah awalnya Hayam Wuruk ragu dengan rencana ini, karena dia sudah berjanji untuk menjemput calon permaisurinya yang sudah kadung dia cintai, Hayam Wuruk hanya ingin urusan ini cepat selesai, sehingga rindu yang tak tertahankan cepat terobati, namun sayangnya ketika hal ini disampaikan kepada Raja Sunda melalui utusannya Wirayuda, mereka menolak karena merasa dihina dan dikhianati oleh Gajah Mada, Wirayuda sendiri akhirnya mengetahui maksud yang tersembunyi dari Gajah Mada yang sebetulnya ingin menaklukan kerajaan Sunda, Wirayuda pun marah, dan kemarahan tsb dibalas oleh Gajah Mada dengan tidak kalah galaknya. Gajah Mada tanpa sepengetahuan Hayam Wuruk akhirnya menyerang rombongan kerajaan Sunda, dan berniat menculik Prabu Linggabuwana serta Dyah Pitaloka untuk nantinya dibawa ke Terawulan, Gajah Mada punya dua maksud, sumpahnya terpenuhi dan pernikahan rajanya pun akan berlangsung.
Sebetulnya beberapa bulan sebelumnya, kepergian Linggabuawana beserta rombongan ditentang oleh sang Adik Mangkubumi Bunisora, karena menurut adat dan nasehat leluhur, jika seorang putri menikah, maka pernikahan harus dilangsukan di kediaman sang putri dan sang mempelai pria yang seharusnya datang, namun Linggabuwana mengabaikan hal ini, karena menurutnya dia tak apa datang ke tegal Bubat, toh ini semua juga demi kebaikan kedua kerajaan, Bunisora sendiri tidak datang ke Tegal Bubat, dia lebih memilih tinggal di kerajaan untuk melindungi putra mahkota Wastukancana Anggalarang yang merupakan adik Dyah Pitaloka. Bunisora tidak bisa menghalang keinginan kakaknya, oleh karena itu dia memberikan sebuah patrem, semacam tusuk konde yang bermata tajam untuk dipakai di rambut Dyah Pitaloka, Bunisora sendiri merasa getir menyerahkan hal tersebut, dia tahu tragedi akan segera terjadi, namun alih-alih menampilkan wajah sedih, Bunisora malah membesarkan hati Dyah Pitaloka yang bertanya-tanya kepada pamannya untuk apa patrem ini.
Di tegal Bubat, perang akhirnya berkecamuk, Rombongan sunda hanya berjumlah 97 orang, sedangkan pasukan Majapahit berjumlah ribuan, perbandingan yang demikian timpang tersebut diperparah dengan ketidaksiapan rombongan kerajaan Sunda yang hanya membawa senjata seadanya, jelas saja mereka datang ke Majapahit memang tidak untuk perang, tapi hanya untuk mengantar Dyah Pitaloka ke gerbang pernikahan, singkat cerita akhirnya pasukan kerajaan Sunda kalah telak, dan Sang Prabu pun terbunuh, Prabu Linggabuwana memilih ikut berperang langsung, karena dia merasa telah melanggar nasehat leluhur patrikama - prubatisti - purbajati, seharusnya dia tidak datang ke tegal Bubat, jadi dengan ikut berperang, dia berharap Sang Hyang Seda akan mengampuninya. Ketika ayahnya jatuh terbunuh, Dyah Pitaloka pun menangis dan menghampirinya, dia tidak percaya, Gajah Mada menggunakan cara licik untuk memenuhi ambisinya, dan pada saat itu pula dia sadar apa kegunaan Patrem tersebut, sekian detik sebelum diculik, Dyah Pitaloka pun bunuh diri, dia rela mengorbankan dirinya demi kehormatan kerajaan Sunda, dia tidak mau kerajaan Sunda yang berdaulat tunduk pada Majapahit begitu saja, Gajah Mada kaget bukan kepalang dengan hal ini
Ketika Dyah Pitaloka terjatuh pada saat itu pula muncul Hayam Wuruk, benar perkiraan Hayam Wuruk, ternyata Dyah Pitaloka lebih cantik ketimbang lukisannya yang selama ini dia terus pandangi berhari-hari. Hayam Wuruk memutuskan datang ke tegal Bubat karena dia curiga mengapa tentaranya di istana hanya berjumlah sedikit, di tengah-tengah banjir darah, ternyata Mahapatihnya yang sangat dipercayai mengkhianati dirinya, Mahapatihnya telah “membunuh” kekasihnya sendiri, Hayam Wuruk pun mempertanyakan mengapa Gajah Mada tega melakukan hal tersebut, di hari-hari selanjutnya Hayam Wuruk pun jatuh sakit-sakitan, Gajah Mada pun hilang entah kemana, dia kabur setelah mengetahui niat Hayam Wuruk untuk menangkapnya. Reputasinya tercoreng hanya karena ambisinya, nila setitik rusak susu sebelangga, Gajah Mada orang yang pertama kali mempersatukan Nusantara akhirnya nasibnya berakhir sebagai buronan
Catatan : ending yang saya gambarkan di blog ini tidak sebagus dengan ending yang digambarkan di bukunya, tragedi kematian Dyah Pitaloka benar-benar menyentuh, sampai sekarang saya masih terus teringat-ingat, Oiya lagipula sebetulnya Dyah Pitaloka itu sudah jatuh cinta dengan lelaki lain, yang sengaja saya tidak ceritakan di sini, kalo ingin tahu kisah romantisme selengkapnya, beli Bukunya aja ^_^
Image is courtesy of Media Indonesia
Harry
November 12, 2008 12:24 pm
nasib manusia, dari orang yang dihormati tiba-tiba jadi penjahat, karena perbuatannya sendiri