Sep04

Sekitar satu tahun lalu saya sudah mendengar tentang kehebatan manajemen Toyota terutama dalam memproduksi mobil, namun baru minggu kemarin sempat untuk membeli salah satu bukunya, yang berjudul How Toyota Became #1 yang ditulis oleh David Magee, Prinsip-prinsip yang diterapkan oleh Toyota di seluruh pabriknya di dunia mejadi sesuatu yg menarik tatkala prinsip-prinsip tersebut bersifat universal dan menurut saya bisa diterapkan di segala bidang selain otomotif

Buku ini dimulai dengan keinginan Sakichi Toyoda pada akhir abad 19, untuk memperbaiki efisiensi mesin tenun yang digunakan oleh Ibunya,menurutnya mesin tekstil yang dipakai ibunya itu tidak efisien, dengan modal usaha dan kerja keras, akhirnya dia bisa menciptakan mesin yang lebih efisien sekaligus membuat senang ibunya dan para tetangga dan bersamaan itulah dia mendirikan perusahaan pembuat mesin tenun Toyoda Loom Works dan Belakangan diganti menjadi Toyoda Automatic Loom Works

Semangat yang diusungnya adalah perbaikan terus menerus, dalam usahanya itu bahkan dia sampai menyuruh anaknya ke Inggris untuk belajar kepada Pabrik Tekstil bernama Platt Brothers, Kiichiro sang anak, juga dikirim ke Detroit untuk mempelajari arti efisiensi di pabrik milik Ford dan dia terkesan dengan fakta yang ada di sana, sehingga alih-alih membuat mesin tekstil baru, keluarga Toyoda malah menjual paten mesin tekstilnya ke Platt Brothers lalu uangnya dijadikan modal untuk mendirikan Toyota Automatic Works

Mereka mendirikan Toyota sama sekali tidak mempunyai pengetahuan atas mesin mobil, namun dengan sikap positif dan perbaikan terus menerus tanpa kenal lelah, mereka akhirnya bisa eksis, kaizen mereka menyebutnya, dimana hal-hal yang berkaitan dengan pemborosan/sampah dihilangkan satu persatu dengan biaya sekecil-kecilnya, budaya Toyota juga mengajarkan jika ada suatu kesalahan dalam proses produksi, maka dengan segera proses produksi tersebut dihentikan, dicari akar masalah dengan memakai prinsip 5 why, lalu diperbaiki

“The five why” adalah cara toyota mengidentifikasi masalah, inilah contohnya

  1. mengapa Komputer ini ngehang ?, karena memorynya sudah tidak mencukupi
  2. mengapa memorynya tidak mencukupi ? karena 1/2 dari kapasitas memory dipakai oleh sistem operasi
  3. mengapa sistem operasi sampai memakai 1/2 nya ? karena sistem operasi lebih mementingkan me-load GUI yang cantik bernama Aero
  4. mengapa sistem operasi mementingkan GUI ketimbang fungsionalitas ? karena Vista ingin menyaingi tampilan Mac OS dan Compiz di linux
  5. mengapa kita memakai Vista ? karena dari awal beli komputer sudah diinstall spt itu

nah ketahuan kan akar masalahnya adalah Vista, ada 2 solusi , ganti sistem operasi ke yang lebih ringan atau upgrade kapasitas memory

Begitulah kira-kira identifikasi masalah yang terjadi di Toyota, sengaja saya memberi contoh di bidang komputer untuk membuktikan bahwa prinsip yang dianut Toyota adalah universal, identifikasi masalah sebetulnya tidak berhenti di situ, demi kejelasan, bahkan karyawan mereka dituntut untuk menulis laporan sampai detail, untuk membuktikan adanya suatu kesalahan, bahkan segala kejadian direkam, dengan adanya bukti audio visual semakin mempermudah bagi team untuk memecahkan masalah. Persoalan identifikasi ini juga mesti melibatkan seluruh tim, bahkan manager pun harus terlibat, manager di Toyota tidak mempunyia hak istimewa, dia bahkan bekerja satu ruangan dengan bawahannya, ini untuk menunjang semangat keterbukaan, dengan terbuka maka masalah akan cepat diidentifikasi. Manager juga tidak mempunyai hak parkir mobil, dalam soal parkir siapa yang datang lebih dahulu maka dialah yang paling berhak untuk mengklaimnya. Budaya seperti ini dibuat untuk persamaan derajat, sehingga kalau ada masalah, karyawan tidak akan canggung untuk mendiskusikan dengan manajernya

Di sisi efisiensi, Toyota menganut “tidak kurang dan tidak lebih”, Mobil dibuat jika hanya ada permintaan saja, suplai komponen terjadi ketika ada pembuatan mobil saja, ini menyebabkan tidak adanya produk yang menumpuk ataupun komponen yang menumpuk, mereka selalu terus menerus berpikir, jika saja mereka bisa menghemat 1 detik, ataupun menghemat satu langkah ketika karyawan mengambil komponen, mereka akan memikirkan cara mengatasinya, tidak hanya di pabrik, bahkan ini menjalar ke kafetaria, semua sampah harus di daur ulang, dan Toyota adalah salah satu perusahaan besar yang hampir tidak pernah mengeluarkan sampah di pembuangan akhirnya

Di sisi pemasaran, Toyota tidak menganut untuk mengejar penjualan terbesar, tidak seperti yang dilakukan GM dan Ford yang selalu sesumbar dan memberi diskon besar-besaran, Toyota tetap bertahan , diskon besar-besaran akan membuat produk di mata konsumen menjadi lebih “rendah”. Alih-alih fokus kepada penjualan, Toyota malah fokus kepada kepuasaan pelanggan, selalu memberi jauh dari ekspektasi konsumen, dan ini dilakukan tanpa sesumbar atau iklan yang bombastis, biarkan pelanggan merasakan kehebatan produknya lama-lama juga akan tersebar dari mulut ke mulut. Saking pedulinya terhadap pelanggan, di suatu waktu Katsuaki Watanabe, sang CEO merasa perlu untuk meminta-maaf sampai membungkuk kepada pelanggan dikarenakan ada cacat di spion Toyota Camry, bersamaan dengan itu ditarik pula ribuan Camry di peredaran, dan tidak akan dipasarkan sebelum diperbaiki. dengan filosofi ini kemajuan penjualan memang serasa lambat, tetapi tidak ada yang mengalahkan soal konsistensi pendapatannya

Dari sisi rancang bangun kendaraan, Toyota selalu menimbang-nimbang dengan matang rencana, keputusan diambil tidak boleh dengan berdasarkan asumsi, tapi dengan Fakta, filosofi “lihat dan dengar sendiri” adalah salah satu cara Toyota mengungkap fakta, cara inilah yang digunakan Toyota ketika akan membangun merek mewah Lexus di AS, para manajer dan teknisinya terjun langsung ke lapangan selama beberapa bulan untuk merasakan hidup mewah, dan juga sembari mencari data apa yang dibutuhkan oleh pelanggan untuk sebuah mobil mewah. Tidak seperti Ford yang mengambil jalan pintas, Ford ketika membangun merek mewah malah membeli jaguar, dalam prosesnya Ford berusaha mengadopsi jaguar dan mencoba menciptakan mobil mewah sendiri, namun apa yg terjadi ?, tidak matangnya rencana malah membuat Ford perlahan-lahan mematikan Brand Jaguar. Dalam membuat rencana, memang rata-rata Toyota lebih lambat ketimbang kompetitornya, namun jika keputusan sudah ada, maka eksekusi untuk menjalankan keputusan Toyota rata-rata lebih cepat ketimbang kompetitornya.

Toyota juga tidak membuat keputusan berdasarkan trend sesaat, perusahaan selalu menyukai berpikir dalam jangka panjang, keuntungan tidak diraih dari hasil instant dan trend sesaat, ini dibuktikan dengan pembuatan mobil hibrida Toyota Prius yang ramah lingkungan pada awal 90-an, Toyota sadar, cepat atau lambat kelangkaan minyak akan terjadi, namun sayangnya kompetitornya mengacuhkan hal ini, di tahun 90-an memang Minyak belum lah langka, dan orang-orang cenderung menyukai kendaraan besar (SUV , misalnya) yang lebih boros bensin, kompetitor Toyota seperti GM dan Ford memproduksi besar-besaran mobil jenis ini, dan pada waktu itu mereka sukses besar. Sementara Toyota tidak tergoda dan tetap mengembangkan mobil hibrida, hasilnya di awal abad ke 21 ketika krisis energi dan lingkungan melanda, Toyota dengan segera mendapat perhatian, sementara GM dan Ford terancam merugi karena orang sudah mulai meninggalkan mobil besar, Toyota Prius adalah salah satu lini produk Toyota yang sekarang laris manis di AS

Hasilnya secara keseluruhan, Toyota sekarang telah melewati GM dan Ford, sementara Toyota sukses, GM dan Ford di awal abad ke 21 sering berurusan dengan masalah karyawan karena memang harus melakukan perampingan. Di tampuk kekuasaan-nya, Toyota tidak merasa puas, kepuasan itu racun kata Watanabe, mereka terus menerus mengembangkan rasa khawatir agar inovasi berjalan terus, sekarang mereka punya mimpi untuk menciptakan kendaraan yang tidak bisa mencelakai manusia dan kendaraan yg bisa membersihkan udara seketika ketika dilewati. “Kalau anda sampai puncak gunung, Anda harus terus mendaki, selama Toyota terus berfokus pada apa yang ada dihati pelanggan terus menjalankan misi berusaha memperbaiki masyarakat, perusahaan akan terus beroperasi”, demikian yang dikatakan sang CEO Katsuaki Watanabe


Toyota Camry, mantabs huh !!!

10 Komentar

Trackback: Use this URI to trackback this entry. Use your web browser's function to copy it to your blog posting.

Gravatar: You can have a picture at the top of each your comments by getting a Gravatar

Can Masagi
September 4, 2008 2:10 pm

Tapi emang pelayanan mereka te o pe be ge te….

Donny Reza
September 4, 2008 11:34 pm

tapi, ngomong2, budaya yang manajer seruangan dengan bawahan, parkir sama, dll .. diadopsi juga di Indonesia nggak ya? maklum, saya sih nggak tau :D

Masenchipz
September 5, 2008 10:07 pm

gw baru sejarahnya lho dari elo ini.. ternyata bener2 dari bawah ya…

waterbomm
September 7, 2008 7:18 am

ohh gitu ya…
kalo seruangan itu sih emang iya.. sampe sekarang loh.. ebat
soalnya kakak saya juga di toyota :D

Harry
September 8, 2008 9:12 am

baru baca n ternyata keren dan banyak pelajaran yang bisa diambil

budaya seruangan antar atasan dan bawahan tuh seharusnya diadopsi oleh pengusaha2 di indonesia, biar gak ada kesan serem kalau ketemu bos

zahra
September 8, 2008 2:33 pm

yups hon…toyota was great inspired…

btw, jarang juga loh perusahaan beasr bahkan di eropa, amerika, asia timur, timur tengah, dmbl yg menerapkan manajemen perusahaan yg baik sperti toyota…cuma geliat2 nya dah mulai ada beberpa tahun belakangan ini…

Ridwan Farid
September 9, 2008 3:03 pm

Kerjasama antar karyawan dan Perlindungan dari BOOSnya merupakan awal dari kemajuan…Toyota juga tidak membuat keputusan berdasarkan trend sesaat..Siip

dudunavi
September 10, 2008 3:39 pm

Mas, Camry kalo sama Fortuner gimana? hehehe..
Aku doain biar dapet camry, tapi jangan lupa doain aku dapet fortuner yach!!

idak
September 15, 2008 10:57 am

lexus, affordable luxury..

Akhmad Guntar
September 29, 2008 10:17 am

Dalam pencarian akar masalah memang perlu diajukan pertanyaan “mengapa” hingga minimal 5 kali. Yg perlu diperhatikan; jawaban dari setiap pertanyaan haruslah merupakan fakta, bukannya asumsi, desas desus, gosip atau prejudice. Krn tentu hal ini akan berpengaruh pada arah pertanyaan berikutnya. Sama dg cara toyota membuat rancang bangun kendaraan spt yg tsb di post. Pun jg perlu diperhatikan kapankah kita perlu berhenti. Berhenti terlalu cepat tidak akan membawa kita pada rumusan masalah yg benar.

Very nice post. Semoga lain kali bisa bedah buku lagi :-)

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.