Tulisan ini terinspirasi dari blog ini tepatnya di gambar ini
Waktu kecil saya terus terang saja, selalu bingung kalau melihat ada yang merokok, dan suka berpikir, “apa sih yang dinikmati orang itu ?, memangnya bisa mbikin kenyang”, dalam pikiran kekanakan saya merokok adalah hal yang paling tidak masuk akal yang dilakukan orang dewasa, saya masih lebih bisa menerima orang Dewasa main layangan ketimbang ada orang Dewasa merokok, terlebih lagi saya sering dikasih gelasan kenur gratis bila bermain layangan besama paman saya dulu (haha dasar anak kecil, jd kalo waktu itu saya dikasih rokok secara gratis, mungkin saya akan menilai merokok adalah kegiatan cukup masuk akal )
Menginjak remaja, masa-masa pencarian jati diri, saya sedikit tahu bahwa merokok itu berbahaya, di sekeliling saya sebetulnya teman-teman saya banyak yang ngerokok bahkan ada pula yang ngeganja, bukannya sy tidak tertarik, ada keinginan juga mencicipi, tetapi pembicaraan sebagian besar selalu berakhir seperti ini
friend : dit garpit ?
saya : errr, henteu ah (sedikit ragu2, 1/2 mau, 1/2 tidak)
friend : ah maneh mah nga roko wae teu wani !!!
saya : tertawa kecilsenyap, sekian detik kemudian
friend: tapi alus ketang dit, entong lah maneh mah entong ngaroko, engke bisi katagihan
saya : oh ….
Anda ndak ngerti pembicaraan di atas ?, kasihan sekali, makanya belajar Bahasa Sunda
, ocehan tersebut diawali dengan teman menawarkan rokok kpd saya yang kemudian saya tolak, awalnya biasanya teman akan mencela saya karena sy bermental cupu, tetapi beberapa detik kemudian mereka malah menyarankan saya untuk tidak coba-coba merokok dengan alasan ketagihan
Nah loh begimane ini standar ganda, sejak saat itu saya selalu mengasihani orang yang merokok, betapa tidak kebanyakan mereka sebetulnya menyadari kalau itu racun bagi diri mereka sendiri, ironisnya kalau racun tikus mudah dihindari (kecuali kalau anda tikus
), tetapi kalau racun rokok ini sulit karena tampaknya sekali-dua kali anda merokok maka pada saat itu pula lah jiwa anda terperangkap dan sulit keluar lagi
Saat ini ketika saya dewasa, sebagian rasa kasihan saya kadang bermigrasi menjadi benci, entahlah apakah ini karena bangsa indonesia sudah sedemikian krisis, saya sering menemukan orang merokok tak tahu malu di dalam angkot, dulu terus terang saja,dulu saya hampir nggak pernah mendapatkan situasi ini, ok lah orang merokok itu memang hak pribadi dia, tubuh-tubuh dia mungkin nggak gitu ngaruh terhadap orang lain, tapi kalau dalam area publik apalagi dalam angkot yang sangat sempit, apa perokok itu tidak menyadari kalau perokok pasif lebih besar terkena dampak negatifnya ketimbang rokok aktif, mereka pikir Bumi ini adalah milik mereka ?, benar-benar tidak punya respek terhadap orang yant tidak merokok, ini bukankah sama saja dengan pencurian paru-paru ?, so seperti yang kita ketahui pencurian organ, ilegal di negara ini dan ada dampak hukumnya, nah pertanyaanya kira2 perokok tersebut bisa dituntut nggak yah ?
Side Quest (emangnya gim RPG
)
saya punya tips jitu bagaimana berhenti dari merokok, cobalah biarkan anda terkena penyakit paru-paru parah, katakanlah paru-paru basah, ayah saya yang perokok berat akhirnya berhenti gara-gara penyakit ini, batuk terus-terusan beberapa hari sampai tulang punggungnya sakit, napasnya pun sulit kami sangat khawatir dan bahkan ayah sampai turun berat bedanya beberapa kilo, ayah saya yang sedikit gendut, menjadi kurus kerontang gara-gara penyakit ini, setelah terapi 6 bulan akhirnya sembuh, itupun beruntung kami dikasih tau oleh teman agar memakai theraphy herbal, lumayan harganya mahal tapi terbukti jitu, beberapa bulan kemudian, bibi saya (umurnya masih muda mungkin 40-an) terkena juga penyakit yang sama beliau memang perokok juga, dan takdirnya tidak seberuntung ayah saya, beliau akhirnya meninggal pada masa-masa terapi
waterbomm
May 16, 2008 10:06 am
apalagi kalo merokoknya ditempat umum.. kaya di bis.. huargghhh!!!!
**hajar yang merokok!