Bermula sabtu lalu, istriku mengeluh sakit, ah kukira wajar2 saja, soalnya setiap kali M, istri memang selalu kesakitan di bagian perutnya tapi entah kenapa besoknya sakitnya ini dibarengi “meriang”, hmm kupikir itu meriang biasa gara2 masuk angin, lalu istriku coba minum obat meriang standar kayak “ultraflu” (nggak bermaksud promosi, kebetulan di rumah adanya itu), hiks ternyata panasnya gak turun2, apalagi kalo malem menggigil padahal sudah dipakaikan selimut entah itu selimut suami (dipeluk, red) atau selimut beneran
Hari seninnya karena meriangnya nggak reda, ya sudah kubawa saja istri ke klinik terdekat, dokter hanya memeriksa sebentar, hanya meriksa tekanan darahnya dan menanyakan pertanyaan2 standar (detailnya aku lupa), kesimpulannya dokter bilang istri ku meriang karena jeleknya cuaca saja, waktu nebus obat kami rada2 tersentak juga, bukan karena jumlah uang yang mesti dibayarkan tetapi karena jumlah obat yang banyak yang berjumlah 7 macam (FYI, di klinik tsb tarifnya flat, jd mo obatnya banyak atau dikit, tarifnya sama, aku rada sedikit kagum juga sih, itu klinik soalnya dimiliki yayasan kristen, mungkin obatnya sudah disubsidi oleh yayasan tsb, entahlah klinik lain seperti itu nggak sih ?, mungkin kalo klinik islam mah malah gratis ?)
Dilihat dari jumlah obat, aku punya firasat jelek, jangan2 istriku sakitnya ” amat serius”, ah kucoba tepis prasangka bodoh itu, ku berharap 1-2 hari ke depan sudah sembuh seperti sedia kala, namun hari-hari berikutnya keadaan semakin memburuk, sariawan mulai membesar, tenggorokan agak bengkak & sakit, mata kalo merem sakit, dada sakit dan muncul batuk-batuk, nafsu makan menurun, hanya bisa makan “energen” saja itupun 1/2 porsi, puncaknya hari selasa malam istri gelisah nggak bisa tidur dan mengalami sesak napas, waktu mengalami sesak napas itu istri mencoba membangunkan aku, aku sendiri tidur terlelap dikarenakan sorenya akupun ikut2an meriang, jd setelah makan obat aku tidur lelap banget, istriku sendiri panik, karena sebelumnya belum pernah mengalami sesak napas seperti itu, dan semakin sulit tenang dengan lelapnya diriku, istri sendiri menceritakan hal itu ketika pagi2 setelah aku bangun