Feb23

Sungguh prihatin melanda Professor Richard Feynman (Nobelis Fisika asal USA) ketika beliau berkunjung ke Brasil dan mengajar di suatu universitas negeri itu, mahasiswa – mahasiwa yang diajar oleh Feynman ketika itu adalah calon-calon lulusan S2 yang tentunya bisa dibilang orang – orang yang memiliki intelektualitas tinggi, tentu saja ketika pertama kali Feynman datang, dia merasa senang karena setiap kali dia mengajukan pertanyaan tentang suatu rumus, mahasiswanya dapat menjawabnya dengan sangat tepat alias akurat

Lalu kalau begitu, apa yang kemudian membuat Feynman gusar, ternyata setelah diselidiki, para mahasiswanya memiliki pemahaman yang dangkal akan subjek yang dipelajarinya, yang mereka miliki adalah kemampuan menghapal yang yahud, pantas saja, feyman membatin, jawaban mereka selalu akurat persis seperti yang ada di dalam buku teks

Lebih jauh lagi, ternyata sistem pengajaran yang berlaku di universitas itu adalah satu arah, dosen menulis, mahasiswa mencatat, pendiktean berlaku di sini, itu artinya, jika dosen menuliskan suatu teori yang mengatakan “cabe itu rasanya pedas”, maka mahasiswanya akan menghapal hal itu dengan akurat, namun jika di saat yg lain ditanya, “bagaimana rasanya rendang sapi yang merupakan masakan padang favorit saya, pedaskah ?, mereka akan menjawab tidak tahu, karena sejauh yang mereka hapalkan, “yang pedas itu cabe bukan rendang” (dezigh), mengerti maksudku ?, yep pemahaman berada di luar jangkauan mereka, mereka tidak memahami cabe itu seperti apa sebagaimana mereka tidak memahami rumus-rumus fisika yang telah mereka pelajari selama ini

Pengajaran satu arah seringkali bukan merupakan sebuah transfer ilmu karena objek yang diajar tidak diajarkan untuk berpikir, berpikir juga sih, berpikir untuk mencatat………. Nyatet juga pan mesti mikir, walaupun kebanyakan pake otak bawah sadar ^_^, dan yang membuatku dan juga Feynman tambah risau (cieeeeeeeeeee nyamain diri sama Feynman, - mode narsis akut : activate) adalah metode pembelajaran satu arah bisa menyebabkan guru/tutor merasa superior, dia bisa merasa satu-satunya jalan kebenaran dan satu-satunya sumber ilmu hanyalah berasal dari dirinya, akibatnya fatal, guru yang seperti ini akan sulit sekali untuk menerima kritik, koreksi atau perbedaan pendapat antara dia dan muridnya, muridnya kelak pun akan kesulitan untuk berbeda pendapat, karena dia sudah terlalu sering diajarkan bahwa suatu masalah hanya dipecahkan dari suatu sudut pandang saja dan itu Mutlak Benar. Aku jadi teringat kata-kata mbakyu eh mbah Albert Einstein yang kira-kira seperti ini “jika 2 orang mempunyai pendapat yang sama dalam suatu masalah, maka bisa dipastikan salah satunya tidak berpikir” (tolong koreksi yah kata2 Einstein yang lebih tepat),nah loh bayangkan 40 orang + 1 dalam sebuah kelas berpikirnya sama semua, mengerikan bukan ?, jika saja kita semua mencari ilmu hanyalah dengan metode seperti ini, maka kita akan terus meyakini bahwa mekanika klasik Newton adalah akurat, padahal untuk skala yang amat mikro seperti yang sudah kita ketahui mekanika quantum lah yang berlaku ( ini mah aku sok tau dikit, yang jago soal ginian mah istri sayah tercinta, makanya yah entar kalo mo nanya, nanyanya ke dia sajah heuehueh ). Lalu pertanyaanya adakah metode yang lebih baik ?

Ilmu pengetahuan dan teknologi sudah beratus-ratus tahun dibangun oleh tesis – antitesis – sintesis, sebuah pengetahuan baru yang muncul (tesis) akan terus diuji (antitesis) sehingga menghasilkan pengetahuan yang lebih matang (sintesis), nah sintesis ini akan menghasilkan tesis baru dan akan diuji kembali oleh antitesis begitu seterusnya, diskusi adalah cara yang bagus untuk mengadaptasi sistem seperti itu. Dengan diskusi, kita diajarkan untuk berbeda pendapat, kita diajarkan untuk melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang, dan kita diajarkan bahwa sudut pandang yang terbaik bukanlah sesuatu yang mutlak, karena mungkin saja di masa depan pandangan itu akan disempurnakan oleh pandangan lain begitu seterusnya, dan yang lebih penting , hal itu akan menyadarkan pada kita bahwa pada hakikatnya ilmu yang kita dapat bersifat relatif, tidak mutlak, dan menurutku, itu adalah sesuatu yang positif sehingga mencegah manusia untuk berperilaku sombong, bagaimana bisa bangga wong ilmu yang kita dapat itu relatif yang suatu saat mungkin akan usang ?, itulah mengapa banyak sekali ilmuwan-ilmuwan besar yang tidak besar kepala walaupun volume otaknya besar (nah binun kan) ^_^, pada hakikatnya kemutlakan hanyalah dimiliki oleh Alloh SWT, sehebat apapun kita, tidak akan setara dengan ilmu yang dimiliki oleh Tuhan………, namun masih ada kabar baik, untungnya Alloh SWT selalu “men-encouraged” kita agar selalu menyempurnakan ilmu kita, “jikalau engkau bisa menembus langit, maka tembuslah….. dan itu tidak akan diraih hanyalah dengan Ilmu”

Nah kawans marilah kita berdiskusi, semoga dengan begitu akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik, yang kemudian bisa kita terapkan di dalam kehidupan ini… aamiin.. dan BRAVO Pendidikan Indonesia, salam hangatku untuk guru2 seluruh indonesia

Notes : tidak sepenuhnya ku menyalahkan pengajaran satu arah, karena walaupun banyak kekurangannya, Alhamdulillah karena pendidikan seperti itu lah aku bisa menjadi seperti sekarang ini, yeaah hal itu masih mending pan daripada tidak mendapat pendidikan sama sekali

Feb16

Dalam perspektif matematika, Saya merasa “kurang sreg” dengan persamaan tersebut di atas, walaupun banyak orang yang meyakini bila anggaran pendidikan kita dinaikan menjadi 20%, maka pendidikan akan menjadi lebih baik, jika pendidikan dasar 9 tahun menjadi gratis maka akan banyak para pelajar kita yang akan menjadi ilmuwan berkaliber internasional…

Hmm begitukah ?, tentunya… aku setuju dan SANGAT SETUJU bila infrastruktur bisa menjadi alat bantu untuk keberhasilan pendidikan, namun sepertinya ada sesuatu yg esensial yang kurang kita perhatikan untuk membangun sistem pendidikan yg lebih baik

Dahulu kala Eropa pernah berada di suatu zaman yang gelap dan bodoh, saking bodohnya mereka berpendapat bahwa mandi bisa menipiskan kulit, penipisan kulit dapat menyebabkan kuman dan penyakit masuk ke tubuh, jadi waktu itu mereka berpikir, semakin jarang mandi maka akan semakin sehat, nah logika yang terbalik bukan bila dibandingkan dengan pengetahuan sekarang, justru dengan mandi lah badan menjadi lebih sehat dan lebih bersih, namun seiring dengan waktu mereka menyadari kebodohan mereka, apalagi bila melihat tetanganya, kekhalifahan islam, di kota-kota islam seperti Cordoba, Baghdad dan Konstatinopel (sekarang Istanbul), ilmu pengetahuan dan agama berkembang pesat, waktu itu boleh dikatakan kota-kota tersebut adalah pusat keilmuan di muka bumi ini, hal itulah yang menyebabkan banyak masyarakat eropa yg “iri”, dengan keterbatasan yg ada mereka munculkan semangat belajar dan bertekad “dalam langkah awal”, untuk datang ke pusat-pusat belajar tersebut, bukan sekedar belajar biasa, mereka belajar dengan keras, sampai-sampai ada yang menetap sepanjang hidupnya di kota-kota tersebut, penerjemahan besar-besaran kitab-kitab klasik pun tak luput dari perhatian, banyak literatur-literatur islam yang merupakan pondasi ILMU pengetahuan, mereka “kunyah dan cerna”, bukan… bukan sekedar untuk disimpan rapat-rapat dalam lambung pikiran sendiri melainkan dikeluarkan dalam bentuk yang lebih matang dan diberikan ke anak cucunya agar masyarakatnya pun bisa keluar dari lembah kegelapan. Dan hasilnya bisa kita lihat sekarang, …… MEREKA BERHASIL, walaupun ada satu ilmu yg luput mereka serap yaitu ISLAM itu sendiri

Lalu mari kita beranjak sedikit ke bagian timur dunia, Jepang, suatu negara yang ciri geografisnya terdiri dari gunung2 dan sedikit sekali lahan yang dijadikan pertanian, merupakan negara “miskin” SDA yang punya potensi besar diguncang gempa, sempat terisolasi berabad2 dan tidak mengenal apa itu “peradaban modern”, di awal abad ke 20 mereka membuka mata dan melihat ternyata negara-negara tetangga bahkan negara tetangga jauh (spanyol, belanda , USA) telah mengembangkan berbagai macam hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahua dan teknologi, tentu saja hal tersebut membuat mereka iri, mereka sadar keterisolasian selama ini telah membuat mereka “jumud” sehingga ilmu pengetahuan pun tidak berkembang, nah kemudian mereka membuka pintu seluas-luasnya bagi tamu asing dengan harapan dapat belajar sedikit ilmu sehingga minimal jepang bisa sejajar dengan negara itu, menariknya kemajuan JEPANG tidak diiringi bablasnya kebudayaan mereka, huruf kanji, katakana & hiragana masih digunakan, pun nilai-nilai pergaulan tradisional masih bisa dipertahankan. Hasilnya, seperti yang kita tahu dalam perang dunia 2, JEPANG merupakan entitas penting yang menentukan jalannya skenario perang, waktu itu Jepang berani menyerang US yang notabene merupakan negara kuat, hal itu ditandai dengan serangan kejutan ke pearl harbour yg merupakan pangkalan utama AS di region pasifik, pada akhirnya jepang memang dinyatakan kalah setelah Hiroshima dan Nagasaki dihujani bom atom, lalu terkena hukuman, jepang tidak boleh mengembangkan tentaranya sendiri, mereka hanya diperbolehkan membangun kepolisian sebagai keamanan intern, belum lagi vonis yang menyatakan bahwa daerah yg terkena bom atom tersebut, efek radio aktifnya tidak akan hilang minimal dalam seabad

Pada titik ini, mereka kembali lagi masuk ke dasar jurang, namun apa yang mereka lakukan waktu itu, apakah menyerah saja oleh keadaan karena segala infrastrukturnya hancur ?, satu yang membuat saya terkesan saat itu adalah ucapan kaisar Hirohito kepada ajudannya, di tengah kegamangan dia berkata yang kira2 begini “segeralah kumpulkan sensei2 (guru2) yang masih hidup supaya anak cucu kita bisa cepat belajar untuk membangun jepang kembali”, dan hasilnya sekarang, kurang dari satu abad, mereka telah menjadi macan ekonomi di dunia, kualitas produk teknologinya pun diakui dunia, di segala keterbatasan sumberdaya mereka malah menjadi negera yang superior, menarik bukan ?

well, banyak yang bisa kita petik dari 2 contoh yang saya utarakan di atas, pada akhirnya kemajuan infrastruktur dan fasilitas bukan satu-staunya entitas kunci yang membuat pendidikan maju, tapi lebih jauh lagi, rasa “iri” (Alloh SWT menyuruh kita untuk fastabiqul khairat – berlomba-lomba dalam kebaikan), semangat & kemauan untuk bekerja keras adalah modal utama, seperti kata Professor Nelson Tansu (Professor Termuda dunia yang menjadi dosen Leihigh University asal Medan), “jika pendidikan Indonesia ingin setara dengan negara2 maju, maka WE MUST WORK EXTREMELLY HARD

Feb13

Bismillahirrahmanirrahim

Bukan ku bermaksud untuk ikut-ikutan latah mewacanakan hari kasih sayang pada tanggal 14 februari (padahal emang iya :D ) , tetapi kebetulan saja, ketika bengong (berpikir,red) sepulang kerja kemarin sore, aku tiba2 ingin menulis tentang ini, yeaaah kebetulan juga, pada saat itu dan hari-hari sebelumnya hatiku sedang berbunga-bunga penuh cinta terhadap istriku tersayang, sehingga ada dong relevansinya antara valentine day dan suasana hatiku he he

Valentine day konon kabarnya adalah sebuah hari untuk merayakan kasih sayang, non sense menurutku kalau ada yang bilang valentine day dan mencurahkan kasih sayang itu negatif, masa merayakan dan mencurahkan kasih sayang dikatakan negative, pan ndak lucu, lalu yang positif apa donk ?, merayakan kebencian ?, kejahatan ? atau kesewenang-wenangan ?

Namun apa yang terjadi pada zaman ini tampaknya bertolak belakang dengan makna hari kasih sayang itu sendiri, jika benar kasih sayang diamalkan tiap hari dan dipilih satu hari untuk merayakannya, tentunya berbagai kebencian seharusnya bisa terminimalisir di dunia ini, lalu pertanyaannya mengapa makin banyak saja manusia yang melupakan Tuhan-Nya ?, anak durhaka kepada orangtuanya ?, istri tidak hormat pada suaminya ?, suami benci kepada istrinya ?, seseorang mengkhianati sahabatnnya ?, egois melanda dunia, nafsu duniawi disembah dan dikejar tanpa menghiraukan rasa kasih sayang sedikitpun

Padahal seperti yang kita ketahui, dana yang tercurah untuk merayakan valentine day tidaklah sedikit, setiap tahun ratusan juta uang berputar, orang yang ikut merayakannya juga tiap tahun selalu bertambah, namun mengapa hal itu tetap tidak membuat dunia lebih baik ?

Yeaah, harap maklum, zaman ini adalah zaman materialistis di mana kulit seringkali dikedepankan ketimbang isi, makna kasih sayang dipersempit bahkan dimodifikasi sehingga makna tersebut tidak terasa lagi, kasih sayang hanya untuk pacar saja , apa-apa pacar, ini itu pacar ?, tiap detik yang dibayangin Cuma pacar yang katanya tersayang ?, apapun diberikan untuk kekasih padahal si kekasih itu belum memberikan secuil pun kasih sayang kepadanya, jadilah pacar prioritas nomor satu atau lebih parah lagi dijadikan “sesembahan”

Tentu saja saya tidak menafikan kasih sayang antara laki-laki kepada wanita dan wanita kepada laki-laki, karena sifat itu adalah fitrah dan kita sebagai manusia normal tidak mungkin menghindari rasa “tuing-tuing” itu, namun kita juga dituntut bertindak adil, kepada siapa2 saja kasih sayang itu layak diberikan, mana prioritas tertinggi mana prioritas terendah, coba kita berpikir sejenak siapa saja sih yang paling besar cintanya pada kita ?, pacar ?, alaaaah…. kenalnya juga paling lama 6 tahun-an ?, apa sih yang diberikan oleh dia , malem mingguan dan traktiran yang paling GD 100 rb-an per traktiran ?, itu juga kalau si pacar tulus memberikannya ?, kebanyakan paling musang berbulu domba atau ada udang di balik bala2 eh batu, yeah kebanyakan traktiran itu dijadikan pemancing supaya “terutama” wanita tunduk kepadanya atau lebih parah lagi, rela saja tubuhnya diutak-atik, dari mulai pegangan tangan berlanjut perlahan-lahan sampai ****** di ranjang, naudzu billah min dzalik

Cobalah kita belajar untuk berpikir jenih, kepada siapa sih seharusnya cinta tertambat ?, cobalah kita bertanya, mata ini pemberian siapa ?, nafas yang kita hirup tiap detik ini pemberian siapa ?, dunia yang kita tempati ini milik siapa ?, ketampanan wajah yang kita miliki ini ciptaan siapa, yang menjamin rezeki kita tetap ada itu siapa ?, kita bisa mendengar gara2 apa ?, kita bisa melihat, mengecap nikmatnya makanan dari siapa ?, akal ini dikasih siapa ?, jiwa & hati ini siapa yang punya ? dan banyak lagi kenikmatan lain.

Tuhan kita, Alloh SWT yang maha pemurah telah mengingatkan “Dan Nikmat Tuhan Manakah Yang Kamu Dustakan” (Ar Rahmaan), mendustkan nikmat Alloh SWT itulah yang seringkali kita kerjakan, padahal curahan cinta Alloh SWT demikian besar, kita manusia yakinlah tidak akan dapat menghitungnya

Kita wajib membalas kasih sayang Alloh SWT, hanyalah 5 x setiap hari, itupun nggak lama, paling banter kita lama sholat 10 menit-an dan itupun gunanya bukan semata-mata untuk Alloh SWT, sholat didirikan untuk kebaikan kita2 juga karena mendirikan sholat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar, berikutnya shaum juga bisa dibilang sebagai tanda cinta karena Alloh SWT ingin hamba yang dicintainya bisa mengekang hawa nafsunya, shaum pun yang wajib hanya 1 bulan diantara 12 bulan, itupun nggak terus2-an, hanya di siang hari saja sedangkan malamnya berbuka, lalu zakat, 2 tanda cinta sesorang kepada sesamanya yang tidak mampu dan bila tulus maka buah cinta itu akan sampai kepada Alloh SWT, zakat sebuah ibadah untuk mengasihi sesama wajibnya pun tidak besar, 2,5% dari pendapatan kita pertahun dan beberapa kg beras di hari raya idul fitri , berikutnya menunaikan ibadah haji, mengunjungi rumah Alloh SWT (baitullah), hanya sekali seumur hidup itupun kalau kita mampu, demikianlah kita dimudahkan untuk mencintaiNya, Alloh SWT tidak pernah menuntut sesuatu yang di luar kemampuan hambanya, rasa syukur kita yang berwujud penghambaan padanya adalah bentuk tanda cinta, sehingga Alloh SWT bisa membuktikan mana orang2 yang layak mendapat cinta abadinya kelak (surga) dan mana orang-orang yang layak mendapat siksa neraka-Nya, nah untuk itulah kita diberi waktu penghidupan supaya kita bisa membuktikan cinta tersebut

Selanjutnya, dengan perantaraan siapa Islam bisa sampai ke tempat kita, tentunya bila tidak ada Rasulullah SAW, nikmat iman di dada ini sampai sekarang niscaya tidak ada, ketika sakaratul maut pun Rasul SAW masih peduli kepada umatnya, terus saja mengucapkan “umatku, umatku, umatku”, begitu cintanya baginda kepada umatnya sampai2 ketika beliau diludahi tetangganya pun beliau tidak membalasnya, pun begitu ketika di lempar bebatuan oleh masyarakat kufah, beliau tidak ingin membalasnya, padahal malaikat Jibril AS yang ketika itu hadir bersedia untuk membalas perlakuan buruk masyarakat kufah tersebut, nah sekarang apa balasan cinta kita untuk Rasul ?, ya minimal tiap hari membacakan sholawat untuknya, nggak lama, paling 3 menitan, syukur2 bisa mendalami kehidupannya dan mengamalkan sunnah2nya, eniwei semoga kita diberi kekuatan untuk bisa mengamalkan sunnah2nya aamiin

Selanjutnya, orangtua adalah perantara bagi kita sehingga dapat hadir ke dunia ini, siapa yang paling payah & menderita ketika kita ada di dalam kandungan ?, siapa yang paling merasa sakit secara fisik ketika kita dilahirkan, pernahkah kita berpikir bahwa ibu kita adalah orang yang paling mendambakan kita lahir ke dunia padahal untuk mencapai tujuan itu beliau mesti berkorban menahan sakit yang amat sangat dan bahkan berhadapan dengan resiko kematian, maka pantaslah bila Rasul SAW sampai mengucapkan 3 kali, ibu, ibu , ibu tentang orang yang mesti kita hormati, coba bandingkan seberapa besar kasih sayang ibu ketimbang pacar anda ?, ketika masih bayi, ibu dengan ikhlas dan sabar menimang-nimang kita, tiap beberapa jam sekali kita mesti digendong, minimal berat kita saat itu berkisar antara 2-6 kg, coba deh iseng2 angkat sesuatu dengan berat segitu selama 20 menit-an tiap jam sekali, nah kerasa kan ?, pegel bo’, belum lagi mesti menyusui kita yg rewel selama 2 tahun, belum lagi nyuci pakaian kita, nyetrikain pakaian kita, ngasih makan kita, ngajarin kita aiueo & a ba ta tsa waaaaaaaaaah ribet deh pokoknya

Lalu selanjutnya, dengan perantaraan siapa kita bisa makan, dengan perantaraan siapa kita bisa membeli mainan ?, dengan uang hasil kerja keras siapa kita bisa sekolah tinggi2, dengan biaya siapa kita bisa baca Al-Qur’an lalu belajar agama sehingga mengenal Al Islam,namun sedihnya sesudah kita pintar seringkali kita melecehkan intelektualitas mereka, merendahkan martabatnya, padahal mereka hidup lebih lama dari kita, kebijaksanaan hidup telah mereka raih lebih dulu daripada kita, maka mendengarkan mereka dengan sayap ketundukan adalah wajib selama perintah mereka tidak bertentangan dengan Alloh SWT dan Rasul-Nya, lalu ketika mereka sudah tua, seyogyanya kita memberi perhatian padanya, namun terkadang kita salah mengerti bahwa perhatian sama dengan uang, tentu saja orangtua mana yang tidak senang pabila kita bisa berbagi rezeki kepadanya, namun hal itu bukan bentuk perhatian yang utama, yakinlah orangtua akan sangat senang apabila kita mengunjunginya, bermalam satu hari tiap bulan kukira tidak terlalu sulit apabila jarak kita ke rumah orangtua cukup dekat, hal tersebut kurasa bisa menjadi hadiah valentine day yg bermakna untuk orangtua tersayang, I love u mom, miss u pop, hiks jadi pengen ke kircon (mode homesick : activate) :D

Nah baru selanjutnya , cinta layak disematkan kepada pacar kita, namun pacar seperti apa yang layak kita cintai, tentu saja pacar sah yang telah diikat oleh mistaqan ghaliza (perjanjian yang berat) atau bahasa kerennya nikah, mengapa kita mesti tulus mencintainya ?, bagi para istri ingatlah aturan Islam, seandainya sujud kepada manusia diperbolehkan maka sujud tersebut akan ditujukan kepada suaminya, suami adalah kepala rumahtangga yang segala tanggungjawab kerumahtanggaan ada padanya, dia mempunyai perjanjian khusus dengan Alloh SWT yang pabila perjanjian khusus mengenai kepemimpinan rumah tangga tersebut dicemari maka dia yang akan pertama kali ditanya oleh Alloh SWT, suami juga yang sebagian besar harinya dihabiskan bekerja keras untuk menjamin rezeki para istrinya dari mulai makanan, pakaian dan tempat tinggal , suami juga yang bertanggung jawab atas pendidikan (terutama agama) seorang istri dan juga anak-anaknya, maka tak berlebihan kiranya kalau Alloh SWT memerintahkan kepada istri untuk menghormati & mematuhi suaminya selama perintahnya tidak bertentangan dengan perintah Alloh SWT & rasulnya, yakinlah 2 hal tersebut apabila dilakukan seorang istri kepada suaminya adalah merupakah hadiah valentine day paling bermakna bagi suami terkasih

Bagi para suami, islam menetapkan aturan bahwa salah satu tanda cinta seseorang kepada istrinya adalah bersikap lemah lembut kepadanya, menggaulinya dengan cara yang baik (ma’ruf) dan seperti yg telah dikemukakan di atas, bertanggung jawab atas rezeki dan pendidikannya. Bersikap romantis kepadanya adalah ibadah, memujinya selama tidak berlebihan dihitung ibadah, bercumbu rayu dengan lemah lembut adalah ibadah, dosa2 berguguran apabila kita membelai jari-jemarinya dengan tulus, bahkan hingga pahala jihad akan disematkan apabila kita “mendatanginya di kamar” dengan cara yang tidak seperti binatang yang selalu tergesa-gesa, mengapa mesti begitu ?, tidaklah kita lupa siapa yang seringkali dengan tulus mendengar keluh kesah selepas kerja, siapa yang telah lelah menyediakan pakaian dan mengolah makanan untuk kita ?, siapa yang menunggu dengan cemas dan penuh rindu ketika kita sedang bekerja ?, kelembutannya menggembirkan kita , ketulusannya melegakan jiwa dan pereda amarah kita dan dengan penuh cinta seringkali mengingatkan kita akan TuhanNya, maka memperlakukan istri seperti di atas, yakinlah akan menjadi kado valentine istimewa buatnya, eniwei, kepada Emiriza ku tercinta kalau kebetulan yayang baca artikel ini, doain akang yah supaya akng bisa menjadi suami seperti itu, aamiin

Lalu kepada siapa lagi cinta mesti tersemat ?, guru2 kita yang merupakan orangtua ketiga bagi kita, yang telah bersusah payah membimbing kita agar pintar & berakhlakul karimah, karena guru kita lah kita bisa menjadi seperti sekarang ini, lalu selanjutnya ke mana lagi priortas cinta mesti ditambatkan ? dari lingkungan terdekat kita sampai terjauh, anak2 kita, tetangga dekat, saudara yang kebetulan rumahnya dekat, saudara jauh, sahabat lalu teman2 kita, binatang, tumbuhan dan sampai alam semesta ini layak kita beri perhatian dan hadiah valentine, bukan hanya tanggal 14 februari saja, namun setiap hari seyogyanya kasih sayang tercurahkan untuk mereka

Lalu gimana dong, adakah tempat untuk menyematkan cinta untuk pacar kita ?, ah sudahlah, ribet tau pacaran belon nikah mah, banyak ruginya daripada untungnya, cukup saja kita mencintainya hanya karena kita sesama manusia yang diperintahkan untuk saling menghormati, menghargai dan menjaga tali silaturahmi, bukan dengan SMS gombal, bukan dengan pegangan tangan, bukan dengan malam mingguan yang nggak karuan terlebih lagi bukan dengan melakukan free sex saat 14 februari tiba ?, kenapa ?, karena itu bukanlah tanda cinta, namun itu adalah perbuatan setan, itulah mengapa dunia kita tidak menjadi lebih baik

Nah, itulah sebagian hal yang membedakan valentine day kita dengan kaum kafir, bila kaum kafir merayakannya pada tanggal 14 februari saja seringkali dengan cara yang keliru, maka kita diperintahkan berkasih sayang tiap hari dengan cara ibadah yang baik dan benar sesuai tuntunan Al Qur’an dan As-Sunnah

Ah, akhirnya semoga kita semua bisa mencurahkan kasih sayang dengan adil, proporsional dan berdasarkan prioritas, semoga kebencian & kekerasan hati hilang dari jiwa kita dan tergantikan oleh jiwa yang lembut dan penuh kasih sayang…… aaamin

Maka marilah bervalentine day, setiap hari  ^_^