Feb23

Sungguh prihatin melanda Professor Richard Feynman (Nobelis Fisika asal USA) ketika beliau berkunjung ke Brasil dan mengajar di suatu universitas negeri itu, mahasiswa – mahasiwa yang diajar oleh Feynman ketika itu adalah calon-calon lulusan S2 yang tentunya bisa dibilang orang – orang yang memiliki intelektualitas tinggi, tentu saja ketika pertama kali Feynman datang, dia merasa senang karena setiap kali dia mengajukan pertanyaan tentang suatu rumus, mahasiswanya dapat menjawabnya dengan sangat tepat alias akurat

Lalu kalau begitu, apa yang kemudian membuat Feynman gusar, ternyata setelah diselidiki, para mahasiswanya memiliki pemahaman yang dangkal akan subjek yang dipelajarinya, yang mereka miliki adalah kemampuan menghapal yang yahud, pantas saja, feyman membatin, jawaban mereka selalu akurat persis seperti yang ada di dalam buku teks

Lebih jauh lagi, ternyata sistem pengajaran yang berlaku di universitas itu adalah satu arah, dosen menulis, mahasiswa mencatat, pendiktean berlaku di sini, itu artinya, jika dosen menuliskan suatu teori yang mengatakan “cabe itu rasanya pedas”, maka mahasiswanya akan menghapal hal itu dengan akurat, namun jika di saat yg lain ditanya, “bagaimana rasanya rendang sapi yang merupakan masakan padang favorit saya, pedaskah ?, mereka akan menjawab tidak tahu, karena sejauh yang mereka hapalkan, “yang pedas itu cabe bukan rendang” (dezigh), mengerti maksudku ?, yep pemahaman berada di luar jangkauan mereka, mereka tidak memahami cabe itu seperti apa sebagaimana mereka tidak memahami rumus-rumus fisika yang telah mereka pelajari selama ini

Pengajaran satu arah seringkali bukan merupakan sebuah transfer ilmu karena objek yang diajar tidak diajarkan untuk berpikir, berpikir juga sih, berpikir untuk mencatat………. Nyatet juga pan mesti mikir, walaupun kebanyakan pake otak bawah sadar ^_^, dan yang membuatku dan juga Feynman tambah risau (cieeeeeeeeeee nyamain diri sama Feynman, - mode narsis akut : activate) adalah metode pembelajaran satu arah bisa menyebabkan guru/tutor merasa superior, dia bisa merasa satu-satunya jalan kebenaran dan satu-satunya sumber ilmu hanyalah berasal dari dirinya, akibatnya fatal, guru yang seperti ini akan sulit sekali untuk menerima kritik, koreksi atau perbedaan pendapat antara dia dan muridnya, muridnya kelak pun akan kesulitan untuk berbeda pendapat, karena dia sudah terlalu sering diajarkan bahwa suatu masalah hanya dipecahkan dari suatu sudut pandang saja dan itu Mutlak Benar. Aku jadi teringat kata-kata mbakyu eh mbah Albert Einstein yang kira-kira seperti ini “jika 2 orang mempunyai pendapat yang sama dalam suatu masalah, maka bisa dipastikan salah satunya tidak berpikir” (tolong koreksi yah kata2 Einstein yang lebih tepat),nah loh bayangkan 40 orang + 1 dalam sebuah kelas berpikirnya sama semua, mengerikan bukan ?, jika saja kita semua mencari ilmu hanyalah dengan metode seperti ini, maka kita akan terus meyakini bahwa mekanika klasik Newton adalah akurat, padahal untuk skala yang amat mikro seperti yang sudah kita ketahui mekanika quantum lah yang berlaku ( ini mah aku sok tau dikit, yang jago soal ginian mah istri sayah tercinta, makanya yah entar kalo mo nanya, nanyanya ke dia sajah heuehueh ). Lalu pertanyaanya adakah metode yang lebih baik ?

Ilmu pengetahuan dan teknologi sudah beratus-ratus tahun dibangun oleh tesis – antitesis – sintesis, sebuah pengetahuan baru yang muncul (tesis) akan terus diuji (antitesis) sehingga menghasilkan pengetahuan yang lebih matang (sintesis), nah sintesis ini akan menghasilkan tesis baru dan akan diuji kembali oleh antitesis begitu seterusnya, diskusi adalah cara yang bagus untuk mengadaptasi sistem seperti itu. Dengan diskusi, kita diajarkan untuk berbeda pendapat, kita diajarkan untuk melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang, dan kita diajarkan bahwa sudut pandang yang terbaik bukanlah sesuatu yang mutlak, karena mungkin saja di masa depan pandangan itu akan disempurnakan oleh pandangan lain begitu seterusnya, dan yang lebih penting , hal itu akan menyadarkan pada kita bahwa pada hakikatnya ilmu yang kita dapat bersifat relatif, tidak mutlak, dan menurutku, itu adalah sesuatu yang positif sehingga mencegah manusia untuk berperilaku sombong, bagaimana bisa bangga wong ilmu yang kita dapat itu relatif yang suatu saat mungkin akan usang ?, itulah mengapa banyak sekali ilmuwan-ilmuwan besar yang tidak besar kepala walaupun volume otaknya besar (nah binun kan) ^_^, pada hakikatnya kemutlakan hanyalah dimiliki oleh Alloh SWT, sehebat apapun kita, tidak akan setara dengan ilmu yang dimiliki oleh Tuhan………, namun masih ada kabar baik, untungnya Alloh SWT selalu “men-encouraged” kita agar selalu menyempurnakan ilmu kita, “jikalau engkau bisa menembus langit, maka tembuslah….. dan itu tidak akan diraih hanyalah dengan Ilmu”

Nah kawans marilah kita berdiskusi, semoga dengan begitu akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik, yang kemudian bisa kita terapkan di dalam kehidupan ini… aamiin.. dan BRAVO Pendidikan Indonesia, salam hangatku untuk guru2 seluruh indonesia

Notes : tidak sepenuhnya ku menyalahkan pengajaran satu arah, karena walaupun banyak kekurangannya, Alhamdulillah karena pendidikan seperti itu lah aku bisa menjadi seperti sekarang ini, yeaah hal itu masih mending pan daripada tidak mendapat pendidikan sama sekali

2 Komentar

Trackback: Use this URI to trackback this entry. Use your web browser's function to copy it to your blog posting.

Gravatar: You can have a picture at the top of each your comments by getting a Gravatar

sylv
February 26, 2007 9:37 am

hmmm klo di univku sih emang pake basis diskusi gitu.. sampe2 kelasnya disebut seminar bukan class lagi..hahahaha. terus kita ada kriteria penilaian class participation.. keren tapi kadang nyebelin sih…

farieh
March 8, 2007 2:37 pm

ya… setuju… soalnya saya ini bukan type anak yang suka nyatat pelajaran.. :D

btw, blog saya kan dah ganti alamat boss…
tolong di ganti………….

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.