Dalam perspektif matematika, Saya merasa “kurang sreg” dengan persamaan tersebut di atas, walaupun banyak orang yang meyakini bila anggaran pendidikan kita dinaikan menjadi 20%, maka pendidikan akan menjadi lebih baik, jika pendidikan dasar 9 tahun menjadi gratis maka akan banyak para pelajar kita yang akan menjadi ilmuwan berkaliber internasional…
Hmm begitukah ?, tentunya… aku setuju dan SANGAT SETUJU bila infrastruktur bisa menjadi alat bantu untuk keberhasilan pendidikan, namun sepertinya ada sesuatu yg esensial yang kurang kita perhatikan untuk membangun sistem pendidikan yg lebih baik
Dahulu kala Eropa pernah berada di suatu zaman yang gelap dan bodoh, saking bodohnya mereka berpendapat bahwa mandi bisa menipiskan kulit, penipisan kulit dapat menyebabkan kuman dan penyakit masuk ke tubuh, jadi waktu itu mereka berpikir, semakin jarang mandi maka akan semakin sehat, nah logika yang terbalik bukan bila dibandingkan dengan pengetahuan sekarang, justru dengan mandi lah badan menjadi lebih sehat dan lebih bersih, namun seiring dengan waktu mereka menyadari kebodohan mereka, apalagi bila melihat tetanganya, kekhalifahan islam, di kota-kota islam seperti Cordoba, Baghdad dan Konstatinopel (sekarang Istanbul), ilmu pengetahuan dan agama berkembang pesat, waktu itu boleh dikatakan kota-kota tersebut adalah pusat keilmuan di muka bumi ini, hal itulah yang menyebabkan banyak masyarakat eropa yg “iri”, dengan keterbatasan yg ada mereka munculkan semangat belajar dan bertekad “dalam langkah awal”, untuk datang ke pusat-pusat belajar tersebut, bukan sekedar belajar biasa, mereka belajar dengan keras, sampai-sampai ada yang menetap sepanjang hidupnya di kota-kota tersebut, penerjemahan besar-besaran kitab-kitab klasik pun tak luput dari perhatian, banyak literatur-literatur islam yang merupakan pondasi ILMU pengetahuan, mereka “kunyah dan cerna”, bukan… bukan sekedar untuk disimpan rapat-rapat dalam lambung pikiran sendiri melainkan dikeluarkan dalam bentuk yang lebih matang dan diberikan ke anak cucunya agar masyarakatnya pun bisa keluar dari lembah kegelapan. Dan hasilnya bisa kita lihat sekarang, …… MEREKA BERHASIL, walaupun ada satu ilmu yg luput mereka serap yaitu ISLAM itu sendiri
Lalu mari kita beranjak sedikit ke bagian timur dunia, Jepang, suatu negara yang ciri geografisnya terdiri dari gunung2 dan sedikit sekali lahan yang dijadikan pertanian, merupakan negara “miskin” SDA yang punya potensi besar diguncang gempa, sempat terisolasi berabad2 dan tidak mengenal apa itu “peradaban modern”, di awal abad ke 20 mereka membuka mata dan melihat ternyata negara-negara tetangga bahkan negara tetangga jauh (spanyol, belanda , USA) telah mengembangkan berbagai macam hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahua dan teknologi, tentu saja hal tersebut membuat mereka iri, mereka sadar keterisolasian selama ini telah membuat mereka “jumud” sehingga ilmu pengetahuan pun tidak berkembang, nah kemudian mereka membuka pintu seluas-luasnya bagi tamu asing dengan harapan dapat belajar sedikit ilmu sehingga minimal jepang bisa sejajar dengan negara itu, menariknya kemajuan JEPANG tidak diiringi bablasnya kebudayaan mereka, huruf kanji, katakana & hiragana masih digunakan, pun nilai-nilai pergaulan tradisional masih bisa dipertahankan. Hasilnya, seperti yang kita tahu dalam perang dunia 2, JEPANG merupakan entitas penting yang menentukan jalannya skenario perang, waktu itu Jepang berani menyerang US yang notabene merupakan negara kuat, hal itu ditandai dengan serangan kejutan ke pearl harbour yg merupakan pangkalan utama AS di region pasifik, pada akhirnya jepang memang dinyatakan kalah setelah Hiroshima dan Nagasaki dihujani bom atom, lalu terkena hukuman, jepang tidak boleh mengembangkan tentaranya sendiri, mereka hanya diperbolehkan membangun kepolisian sebagai keamanan intern, belum lagi vonis yang menyatakan bahwa daerah yg terkena bom atom tersebut, efek radio aktifnya tidak akan hilang minimal dalam seabad
Pada titik ini, mereka kembali lagi masuk ke dasar jurang, namun apa yang mereka lakukan waktu itu, apakah menyerah saja oleh keadaan karena segala infrastrukturnya hancur ?, satu yang membuat saya terkesan saat itu adalah ucapan kaisar Hirohito kepada ajudannya, di tengah kegamangan dia berkata yang kira2 begini “segeralah kumpulkan sensei2 (guru2) yang masih hidup supaya anak cucu kita bisa cepat belajar untuk membangun jepang kembali”, dan hasilnya sekarang, kurang dari satu abad, mereka telah menjadi macan ekonomi di dunia, kualitas produk teknologinya pun diakui dunia, di segala keterbatasan sumberdaya mereka malah menjadi negera yang superior, menarik bukan ?
well, banyak yang bisa kita petik dari 2 contoh yang saya utarakan di atas, pada akhirnya kemajuan infrastruktur dan fasilitas bukan satu-staunya entitas kunci yang membuat pendidikan maju, tapi lebih jauh lagi, rasa “iri” (Alloh SWT menyuruh kita untuk fastabiqul khairat – berlomba-lomba dalam kebaikan), semangat & kemauan untuk bekerja keras adalah modal utama, seperti kata Professor Nelson Tansu (Professor Termuda dunia yang menjadi dosen Leihigh University asal Medan), “jika pendidikan Indonesia ingin setara dengan negara2 maju, maka WE MUST WORK EXTREMELLY HARD ”
ariekeren
February 16, 2007 4:27 pm
meanwhile that professor said so, i’m afraid i’m much more cruel than Japanese themselves and say : We must work extremely *smart* and hard.
it’s not a sort of magic to master/to conquer something in short, it’s just the “why” / technique, *how* brain works, *how* mnemonics works, *how* integral efforts work to make Indonesia prestigious