Sungguh prihatin melanda Professor Richard Feynman (Nobelis Fisika asal USA) ketika beliau berkunjung ke Brasil dan mengajar di suatu universitas negeri itu, mahasiswa – mahasiwa yang diajar oleh Feynman ketika itu adalah calon-calon lulusan S2 yang tentunya bisa dibilang orang – orang yang memiliki intelektualitas tinggi, tentu saja ketika pertama kali Feynman datang, dia merasa senang karena setiap kali dia mengajukan pertanyaan tentang suatu rumus, mahasiswanya dapat menjawabnya dengan sangat tepat alias akurat
Lalu kalau begitu, apa yang kemudian membuat Feynman gusar, ternyata setelah diselidiki, para mahasiswanya memiliki pemahaman yang dangkal akan subjek yang dipelajarinya, yang mereka miliki adalah kemampuan menghapal yang yahud, pantas saja, feyman membatin, jawaban mereka selalu akurat persis seperti yang ada di dalam buku teks
Lebih jauh lagi, ternyata sistem pengajaran yang berlaku di universitas itu adalah satu arah, dosen menulis, mahasiswa mencatat, pendiktean berlaku di sini, itu artinya, jika dosen menuliskan suatu teori yang mengatakan “cabe itu rasanya pedas”, maka mahasiswanya akan menghapal hal itu dengan akurat, namun jika di saat yg lain ditanya, “bagaimana rasanya rendang sapi yang merupakan masakan padang favorit saya, pedaskah ?, mereka akan menjawab tidak tahu, karena sejauh yang mereka hapalkan, “yang pedas itu cabe bukan rendang” (dezigh), mengerti maksudku ?, yep pemahaman berada di luar jangkauan mereka, mereka tidak memahami cabe itu seperti apa sebagaimana mereka tidak memahami rumus-rumus fisika yang telah mereka pelajari selama ini
Pengajaran satu arah seringkali bukan merupakan sebuah transfer ilmu karena objek yang diajar tidak diajarkan untuk berpikir, berpikir juga sih, berpikir untuk mencatat………. Nyatet juga pan mesti mikir, walaupun kebanyakan pake otak bawah sadar ^_^, dan yang membuatku dan juga Feynman tambah risau (cieeeeeeeeeee nyamain diri sama Feynman, - mode narsis akut : activate) adalah metode pembelajaran satu arah bisa menyebabkan guru/tutor merasa superior, dia bisa merasa satu-satunya jalan kebenaran dan satu-satunya sumber ilmu hanyalah berasal dari dirinya, akibatnya fatal, guru yang seperti ini akan sulit sekali untuk menerima kritik, koreksi atau perbedaan pendapat antara dia dan muridnya, muridnya kelak pun akan kesulitan untuk berbeda pendapat, karena dia sudah terlalu sering diajarkan bahwa suatu masalah hanya dipecahkan dari suatu sudut pandang saja dan itu Mutlak Benar. Klik di sini kalau masih penasaran …
Dalam perspektif matematika, Saya merasa “kurang sreg” dengan persamaan tersebut di atas, walaupun banyak orang yang meyakini bila anggaran pendidikan kita dinaikan menjadi 20%, maka pendidikan akan menjadi lebih baik, jika pendidikan dasar 9 tahun menjadi gratis maka akan banyak para pelajar kita yang akan menjadi ilmuwan berkaliber internasional…
Valentine day konon kabarnya adalah sebuah hari untuk merayakan kasih sayang, non sense menurutku kalau ada yang bilang valentine day dan mencurahkan kasih sayang itu negatif, masa merayakan dan mencurahkan kasih sayang dikatakan negative, pan ndak lucu, lalu yang positif apa donk ?, merayakan kebencian ?, kejahatan ? atau kesewenang-wenangan ?