Beberapa hari yang lalu di suatu pagi yang sangat indah (jelas ajah indah, bis pagi itu segalanya dilayanin ma istri tersayang siy he he
), di sebuah jalan bernama pasir koja tepatnya dekat warung nasi kuning dan tukang dagang kacang rebus, tau nggak kalo itu di Bandung (halah), ku bertemu dengan seorang pengemis, dengan wajah memelas ditambah pakaian lusuh serta tangan yang mengiba mengharapkan uluran tangan dari pejalan kaki entah itu 100 rupiah ataupun 200 rupiah atow syukur2 10 miliar yu-es dollar (gubraks)
Dan, pejalan kaki di depanku pun mengulurkan tangannya, maka uang 1000 rupiah pun berpindah tangan dengan gagahnya dari sang pejalan kaki kepada sang pengemis, hmm sebuah perpindahan uang yang byasa yang sama sekali tidak menarik hatiku
lalu berkatalah sang pengemis yang kurasa sangat tulus muncul dari dasar nurani terdalam tanpa embel-embel layaknya koruptor di negeri antah berantah yang mengemis kepada penguasa agar ceruk perut (bisnisnya, red) diamankan
“nuhun pisan jang,alhamdulillah moga ujang bagea, moga digampangkan rezekina ku Alloh, moga salamet dunia akherat” (terima kasih sekali, pemuda, semoga pemuda bahgia, semoga rezekinya dimudahkan oleh Alloh SWT, semoga selamat dunia akhirat), OTOMATIIIS terucaplah kata aamiin yang tulus dari sang pejalan kaki sambil mengangguk tanda hormat pada orangtwa
heh, ku terkesiap, jiwa dan otakku serasa tersentak, pikiran2 lalu berkelebat, frame kehidupan yang baru kulihat barusan terasa sangat cantik dan sepertinya mencoba mengajari banyak hal pada diriku, ku jadi teringat penghasilan yang telah kudapatkan selama ini melaluwi boss dan perush tercintah , “gubraks”, gwe paraaaaaaaaah banget, hahaha, i’m exactly kufur nikmat, selama ini daku slalu saja mencak-mencak (tentunya dalam hati kekek) kepada boss ataupun perusahaan, selalu saja merasa kekurangan gaji, padahal mungkin penghasilanku jauuh di atas penghasilan orangtwa itu,nah kerennya aku sama sekali tidak pernah mendoakan boss ataupun perusahaan tempatku bernaung, pengemis saja yg mendapatkan uwang 1000 rupiah, dengan lancarnya mengucap terima kasih+bonus mendoakan kepada orang yg memberinya…
entahlah, menurut pendapatku kita sering “belum tepat” memaknai rasa syukur, rasa syukur semestinya tidak hanya ditujukan langsung kepada maha penguasa, tapi kepada sang perantara (wasilah) pun merupakan kemestian, kita sering lupa “ngasih brownies amanda” kepada orang-orang yang telah berkorban demi kita, pun begitu kita sering lupa berterima kasih atau syukur2 ngedoain boss atau perush kita bernaung agar maju, kalaupun gaji kita gak naik2, ya byarlah toh doa kita untuk boss atow perusahaan tercintah yakinlah didengar oleh ALLOH SWT, kaloupun tidak di dunia PASTI Alloh SWT kan membalas kebaykan kita di akhirat
lebih dari itu, kita juga sering lupa berterimakasih kepada orang yang paling BANYAAAAAAAAAAK, berkorban untuk kita, kedwa orangtua, pernahkah kita berterimakasih kepadanya ?, mendoakannya ?, nurut padanya ?, ngasih brownies ?, mengecup tangannya ?, atau mengabulkan keinginannya ?, aaaahhhhhh, astaghfirullahaladzim
STOP OOT, nah kembali ke urusan boss dan urusan kantor, mulai skrng ndaak ada salahnya kan kalo nerima slip or amplop gaji (di sini ndak pake transfer ATM he he) langsung mengucap terima kasih dan ngedoain boss or perushnya,remember : berdoa dan berterimakasih itu sangat mudah dilakukan but powerfull untuk membuat pikiran selalu positip
hmm akhirnya aku menyebrang jalan, kembali ke dunia nyata dan meninggalkan pikiran2 yg berkelebat tadi, “waaa, loh sang pengemis ke mana, et dah daku tadi ngasih wang ke dya kagak yah ? “, haah daku lupa, mo balik lagi, jam telah menunjukan tanda terlambat, ahhh payah……. so, ku hanya bisa berdoa untuknya, semoga ketulusan doa bliaw bisa menjadi kendaraannya menuju surga kelak aamin
gaussac
September 13, 2006 8:10 pm
duh yang lagi honeymoon, serasa dunia ini milik berdua…:D
memang kudu banyak amal, insya Allah, tambah banyak rezkinya buat kalian berdua. amin.