Bismillahirrahmanirrahim
Di suatu hari yang cerah, di depan halaman rumah, sekelompok anak2 berusia 4 sampai 6 tahun sedang bermain-main, tiba-tiba datang satu anak lain membawa mainan mobil remote control baru pemberian ayahnya, teman-temannya yang lain tentu saja segera mendekatinya, mereka ingin melihat dan memainkan mainan mobil remote control itu, tentu saja si empunya mainan itu meminjamkan mainan itu kepada teman-temannya secara bergiliran.Pada awalnya, peminjaman berjalan dengan lancar, namun ketika giliran anak ketiga, maka mulailah terjadi friksi, anak kedua merasa waktunya belum habis dalam memainkan mainan itu sedangkan anak ketiga merasa waktunya sudah selesai bagi anak kedua untuk memainkan mobil tersebut. Si empunya yang kebetulan lebih dekat ikatan emosinya dengan anak kedua membela anak kedua, lantas mudah ditebak perkelahian pun terjadi dengan menghasilkan tangisan pilu bagi anak ketiga. Si anak ketiga ini pulang ke ibunya sambil menangis dan dengan polosnya menceritakan kejadian itu pada ibunya.
Keesokan harinya merekapun bermain seperti biasa, si anak ketiga tetap membaur dengan teman-temannya dan sepertinya lupa akan kejadian yang kemarin, menarik untuk disimak betapa rasa sakit hatinya hilang begitu saja tanpa bekas dalam waktu 24 jam. Dia tetap ceria seperti sedia kala seolah-olah kejadian kemarin yang sangat menyakiti hatinya tidak pernah terjadi.
Hmm, Itulah sebuah anugerah dari Alloh SWT yang diberikan kepada anak-anak, betapa sifat lapang dada tercermin dari perilaku mereka, mereka adalah manusia-manusia mungil yang juga sering berbuat salah namun dengan intuisinya mereka pun selalu bisa melepas beban-beban emosi seperti rasa dendam atau rasa kesal kepada kawan dalam rentang waktu yang relatif sebentar, secara intuitif mereka paham, bahwa perasaan negatif akan merusak keceriaan dan kesenangan mereka. Mereka memilih kesenangan daripada memendam perasaan negatif dalam diri. Mereka lebih memilih melupakan “sampah” daripada menyimpannya dalam hati atau otak mereka.subhanallah mungkin itulah kata-kata yang pantas kita ucapkan untuk mereka.
Lalu bagaimana dengan kita yang katanya adalah seorang manusia yang telah berpredikat “dewasa”, ah kalau mau jujur kita terkadang lebih kekanak-kanakan daripada anak-anak itu sendiri. Kita terkadang bertindak tidak masuk akal sebagai respon terhadap sesuatu yang tidak mengenakan yang datangnya dari orang lain, ketika dimarahi atasan yang diingat pun kekesalan-kekesalan terhadap atasan kita, ketika teman menyakiti kita dan menuduh kita egois kita hanya mengingat sakit hati kita. Imbasnya hidup kita tidak tentram, makan tak mau tidur pun tak bisa, postingan di MyQuran pun menurun kualitasnya
, hubungan pertemanan pun menjadi renggang, dan hal lain sebagainya
Kita lebih suka menyimpan perasaan-perasaan tidak mengenakan tersebut di otak atau hati kita lebih lama dari seharusnya. Padahal Alloh SWT selalu memerintahkan kita untuk mensucikan diri, membuang apa-apa yang ada di recycle bin, jika tidak dibuang, layaknya komputer, file-file sampah yang menggunung itu akan menyebabkan komputer hang atau crash pabila tidak kita hapus, lebih parah lagi kalau file-file tersebut termasuk jenis virus, tentu saja tanpa menunggu penuh pun, file virus akan langsung membunuh sistem komputer dengan cepat. Sejujurnya, saya tidak tahu mengapa kita selalu mengingat-ngingat hal-hal yang bisa dikategorikan sebagai ingatan sampah. Mungkinkah ini disebabkan selama 16 (sampai jenjang S1, red) tahun kita sekolah, kita tidak pernah diajarkan pelajaran Lupa.
Kawan, Mungkin sudah saatnya kita merenung dan belajar kembali (re-learning) untuk mencoba melupakan segala sampah dalam ingatan kita. Bagaimanapun kita semua pernah jadi anak kecil, coba ingat-ingat kembali friksi/perkelahian kita dengan teman ketika kita kecil dahulu dan pelajari pula bagaimana cara kita melupakan dengan segera hal-hal yang menyakiti hati. Jika memori itu sulit untuk terkuak, mungkin inilah saatnya bagi kita untuk mencoba bergaul kembali dengan anak-anak kecil, perhatikan mereka, tingkah-tingkah mereka, keceriaan mereka, tawa yang renyah dan ketiadaan beban hidup dalam dada mereka atau jika kita kebetulan sudah punya anak, sering-seringlah bermain dengan mereka. Semoga dengan begitu kita bisa menghargai mereka karena pada hakekatnya mereka adalah guru terhebat yang pernah ada di dunia ini, benarkah ? aku yakin benar ?, karena tiada anak-anak yang masuk neraka, semua anak-anak adalah representasi dari curahan kasih sayang Alloh SWT, dan mereka hanya berhak untuk tinggal di surga.
Jadi tidak ada salahnya kan kalau kita belajar dari penghuni surga.
Wassalam
Ketika langit kiaracondong mendung pada suatu sore 21 Mei 2006
Pada saat Persib Bandung hanya bermain imbang dengan Persija 1-1
ARS
May 25, 2006 9:19 am
Hm…indahnya awan yang menaungi savana di bukit kircon, bikin baca tulisan ini begitu syahdu..