May18

Bismillahirrohmanirrohim

Catatan Wanita Lajang : Dan Tersenyumlah Kepada Dunia, begitulah judul buku ini, pffffh, sebuah hembusan tanda keprihatinan akhirnya keluar juga dari mulutku, buku setebal 236 Halaman ini bercerita banyak hal tentang kepedihan dan kesedihan wanita yang ketika memasuki usia matang masih juga belum didampingi oleh pangeran terkasih, imbasnya ini telah membuatku lebih empati, simpati dan BANGGA kepada saudariku-saudariku yang konon kabarnya punya perasaan sangat halus. Ditulis oleh 5 lajangster sabar dan perkasa (semoga Alloh SWT meridhoinya, amiin) yaitu : Azimah Rahayu, Lusiana M Hevita, Otrimayani, Rahmadiyanti dan Nanik Susanti

Mereka menulis dengan bahasa yang begitu renyah yang dengan mudah dapat dilahap oleh rasa maupun akal. Memang, kesedihan dan kepedihan kadang menelusup dalam cerita ini tapi tidak jarang pula derita itu pun diselingi rasa sabar, optimis dan syukur kepada Maha Penguasa. mereka bercerita baik pengalaman pribadi maupun pengalaman teman2 terdekatnya yang sudah bergelar “mbak” tapi belum juga dikaruniai jodoh.
Menikah, siapa sih orang normal di dunia yang tidak menginginkannya, tuntasnya separuh dien, tentramnya hati karena selalu ada kekasih yang mendampingi untuk berbagi segala hal dari keluh kesah sampai canda tawa riang. Namun menuju hal tersebut tidak semua orang dapat mengusahakannya dengan mudah, 21 kali proses, begitulah salah satu judul kisah diantara beberapa kisah di buku ini, 21 kali proses menuju pernikahan dijalani seorang akhwat dalam waktu 7 tahun terakhir, dari umur 22 sampai 29 tahun yang semuanya gagal, banyak hal yang menyebabkan proses itu kandas di tengah jalan, dari mulai kriteria untuk calon suami yang terlalu ideal, terus pernah juga menemukan ikhwan yg menurut dia ideal dan sudah pada tahap khitbah tetapi ketika akan menikah, prosesnya terhenti karena orangtua si ikhwan membatalkannya !!! dan ada lagi kegagalan berikutnya yang membuat aku tak kuasa untuk membendung air mata yaitu pada usia 29 tahun akhwat tersebut akhirnya kembali menemukan pasangan yang dia anggap ideal, prosesnya berjalan dengan lancar tapi apa mau dikata, sebelum akad nikah sempat terucap, ternyata sang ikhwan meninggal dalam suatu kecelakaan.

Tapi satu yang aku salut dari akhwat tersebut, ternyata sekarang dia tetap menikmati dunianya, katanya : “tidak semua orang dapat mengalami hal ini, pengalaman adalah guru yang paling berharga, dari sanalah kita mendapatkan hikmah dan pelajaran yang banyak dari Alloh SWT. Dari proses tersebut ada beberapa pelajaran yang telah dia tarik diantaranya :

  1. Hidup tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan
  2. Setiap orang benar-benar memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dan mereka layak mendapati penghargaan layaknya sebagai seorang manusia
  3. Lebih baik mencintai apa yang telah dimiliki ketimbang mencintai sesuatu yang belum diperoleh
  4. Jodoh adalah Takdir Alloh SWT, bahkan hal-hal sepele pun bisa menjadi penyebab kegagalannya

Di sisi lain kisah, ada juga akhwat yang tenang dan berpandangan sangat positif, Life Begins At Forty, itulah kisahnya dan prinsipnya, kita jangan suudzon dulu, bukan, bukan dia yang bermaksud dan berniat menikah diumur 40 tahun, sejak lulus kuliah akhwat ini mengaku dia bukannya tanpa usaha menuju ke arah itu, ketika dia bekerja pun, dia sempat punya harapan kepada ikhwan sekantornya, mereka berhubungan dekat sebagai rekan kerja, diskusi2 tumbuh diantara mereka berdua tapi apa daya, tampaknya si ikhwan hanya ingin menjadikannya teman diskusi dan bukan sebagai istri, hmm tangan kembali hanya bertepuk sebelah, setahun dia berjuang untuk memulihkan kondisi hatinya. Berbagai ujian telah mendera batinnya. Sekarang usianya tidak lagi muda, 33 tahun !!, dan dia bersyukur dia masih diberi ketenangan oleh Alloh SWT walaupun keinginan menikah tetaplah ada. Dia teringat kisah khadijah .r.a yang menikah di umur 40 tahun, 7 tahun waktu yang tersedia membuat dia akan terus berusaha, belajar mengumpulkan bekal untuk sebuah tanggung jawab besar, menjadi istri dalam suatu keluarga.

Bagaimana jika sebelum umur 40 dia meninggal, dia berkata : “saya akan memohon kepada Alloh, untuk meridhoi saya, saya telah memulai langkah kemarin dan sempat jatuh, sekarang saya sedang mencapai cita-cita saya”

Lalu bagaimana jika setelah umur 40 tahun cita-citanya belum tercapai, dia tertawa renyah dan berkata : “saya akan menyusun kembali cita-cita baru agar saya bisa mencapainya pada usia 50 tahun”

“Carilah Ilmu dari Buaian dampai Ke Liang Lahat”, begitulah kedudukan ilmu di sisi Alloh, akhwat lain bercerita di umurnya yang sudah kepala 3, berbagai ilmu dia lahap sambil menunggu masa penantian, dan dia sekarang sedang proses untuk mengambil program S3, malangnya keluarga besarnya menghalanginya, menurut keluarganya : “laki2 cenderung ngeper kalo bersanding dengan wanita yang jenjang pendidikannya lebih tinggi”, hmm sebuah alasan yang tidak dapat diterima menurutnya, lagipula dia tak tahan menahan beban mental bila dia diam mendekam di rumah sambil menunggu pangeran datang, dia berkata “memangnya Alloh SWT memerintahkan janganlah kuliah S3 tetapi menikahlah terlebih dahulu ?”, lagipula lanjutnya lagi “siapa tahu dengan aku kuliah lagi aku malah mendapati pasanganku di kelas tersebut, ibarat petani yang menemukan belut ketika menanam padi, siapa tahu aku mendapatkan bonus yang berupa belut itu he he”

selanjutnya, Buku ini bukanlah tanpa cerita konyol, di bagian lain kisah seorang akhwat berumur matang bertutur, teman2 kantor sangat perhatian dan prihatin akan kondisinya yang belum mempunyai suami. Seorang teman wanitanya yang belum begitu paham tentang seluk beluk agama Islam, menawarkan lelaki padanya, akhwat itu lantas berpikir, “hmm tidak ada salahnya dicoba, toh namanya juga ikhtiar, siapa tahu lelaki yang ditawarkan oleh temannya itu walaupun tidak begitu paham tentang islam, asal dia bereperilaku hanif, nah bisa jadi ladang dakwah nih ketika menikah nanti”

kemudian, “Gubraks”, si lelaki mengajaknya nonton, “proses macam apa ini ?” dia bergumam dalam hati, untungnya si mak comblang meyakinkan bahwa ke bioskopnya rame2 bareng dengan teman2 sekantor, hatta, hari itupun tiba, “hiks, ternyata si lelaki membatalkan janjinya karena menurut mak comblangnya dia sedang lembur”

kesempatan kedua lelaki tersebut mengajak untuk bertemu lagi, si akhwat pun mencoba meminta kepastian, “tidak ada lagi pembatalan kali ini”, mak comblangnya meyakinkannya, si akhwat tersebut akhirnya mencoba maju dan bersiap-siap, akhwat tsb adalah seseorang yang berpenampilan sederhana, jadi dia tidak punya baju atau sepatu yang dikatakan “bagus” untuk pertemuan malam nanti, namun karena si akhwat berniat memaksimalkan usaha, maka dia pun memaksakan diri membeli satu stel pakaian dan sepatu untuk keperluan ikhtiarnya. Di kantor dia gelisah dan tegang, ketika dia berada di mushala, mak comblang menghampirinya dan memberi kabar yang kurang enak, kembali si lelaki membatalkan janjinya. “hmm, ya sudahlah mungkin belum saatnya”.

Nah malamnya si akhwat melakukan suatu kebiasaan iseng, yaitu me-miscalled teman2nya, dan salah satunya si lelaki itu, tidak lama kemudian ada SMS masuk : “ngapain malem2 ngeganggu suami orang, mo ngajak kencan yah”, dezigh, aura kemarahan langsung mendekap dirinya, si akhwat marah kepada si lelaki dan mak comblangnya, dia mencoba menghubungi mak comblangnya beberapa kali, ternyata mailbox dan dia tidak berhasil, akhirnya dia memilih berwudhu dan shalat untuk meredam kemarahannya.

Esoknya akhwat tersebut kembali tenang, lalu mencoba meminta keterangan dari mak comblangnya, mak comblangnya bercerita bahwa dia pun tidak tahu kalau si lelaki itu sudah punya istri, akhirnya setalah diteliti dalam 2 minggu berikutnya, memang si lelaki itu sudah punya istri dan ternyata rumah tangganya di ambang kehancuran. Cukup sampai di sini, akhwat tersebut berkata, mak comblangnya pada akhirnya meminta maaf padanya dan dengan menangis mereka pun berpelukan.

~THE END~
_____________________________________________________

Catatan :

Fuuuh, masih banyak kisah2 yang belum daku ringkaskan di buku ini, untuk lebih jelasnya beli aja deh bukunya, daku jamin kuereeeen banget dah, banyak cerita2 di sini yang mungkin nanti membuat kita lebih arif lagi dalam memandang masalah kehidupan, teruntuk para wanita yang sudah menikah (mengingat penduduk wanita sekarang lebih banyak ketimbang lelaki), bersyukurlah, karena masih banyak saudari2 anda yang belum diberi kesempatan mengecap indahnya rumah tangga

Kepada para ikhwan , ngomong2 siap nggak niy poligami, kata guruku poligami tuh jangan ke yg daun muda aja (ya benerlah, masa nikah sama daun siy xixixi),tetapi kepada yg akhwat yang usianya matang, lagipula akhwat yg High Quality Jomblo masih bertebaran di mana-mana, so beranikah anda ? (heuheuehueehuehu, daku sok tau banget siy, kayak dah nikah aza, af1 deh af1, lupain ajah, itu mah Cuma becanda aja kok, sueeeer)

Nah daku sendiri begimane ?, huaaaaaaaaaaaaah, usiaku dah diambang batas hiks :-( , nah kok diambang batas…… kan masih 22, iye lah, kan kalo aku menikah di atas umur 25 tahun, itu namanya bukan pernikahan dini lagi, tapi pernikahan dina xixixixi…. Cita2ku kan ingin menikah dini he he, pertanyaannya ? realisasinya mannna ?, ya jawabku diplomatis duooong seperti wanita2 tegar di buku ini, “ya ini sedang berusaha, InsyaAllah calon mah SUDAH ADA, bukankah sebelum kita lahir, jodoh sudah tercatat di lauhil mahfuz”, so doain aye juga yeee

SMANGAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAT, ALLAHU AKBAR !!!

Akhir kata, af1 kalo ada yang tidak berkenan, mari kita semua berdoa, semoga di lubuk hati kita yang paling dalam tetap terpatri cinta sejati yang merupakan milikNya dan dariNya, yang tak akan hilang walaupun kiamat sekalipun, hanya Dia yang berhak mendapatkan prioritas dari cinta kita, cinta Allah Azza Wajjala, dalam dekapanNya lah bahagia ada, jadi janganlah risau wahai para ukhti, ALLAH TETAP ADA UNTUK KITA, JIKA KITA CINTA PADANYA, sepenuh jiwa, amiin ………….. eh ketinggalan, doa itu untuk ikhwan juga loooh :D

Wassalam

Di suatu pagi yang cerah di kiaracondong, Senin 08 Mei 2006
Kembali, Ketika awal kehidupan dan perjuangan akan ku renda bersamamu, ya Rabb

4 Komentar

Trackback: Use this URI to trackback this entry. Use your web browser's function to copy it to your blog posting.

Gravatar: You can have a picture at the top of each your comments by getting a Gravatar

Afifa
May 18, 2006 5:48 am

Kirain buku ini hanya diminati akhwat tok, but ternyata ikhwan juga. Semoga banyak juga ikhwan yang baca buku ini, supaya mereka tahu beginilah sebenernya perasaan akhwat yg asli dan paling daleem - terlepas dari status mereka yang sukses dalam da’wah atau pun pekerjaan.

O iya, sewaktu menulis buku itu, mbak Azi (Azimah Rahayu) memang masih lajang, alhamdulillah wasyukurillah pangeran impiannya - yang bisa mewujudkannya menjadi a mother someday - udah menjemput tuh tahun kemarin. So, yang lajang berarti tinggal 4.

Hmm…antum… sebagai ikhwan… bisa terenyuh membaca tulisan2 mereka, apalagi ane yang perempuan :-D . ane coba analisis dikit, pandangan ikhwan terhadap cerita2 lajangster: terenyuh or simpati, empati sekaligus bangga karena masih ada muslimah mu’minah yang istiqomah; dari pandangan akhwat: selain perasaan-perasaan itu, ada pertanyaan yang nggak bisa dijawab selain waktu yang membuktikannya, that’s Can I be as stronger as them when I became thirty and the princes had not come yet?

Febry
May 27, 2006 5:04 am

Mendengar coment dari teman2 tentang kisah para lajangster membuat saya tertarik untuk membeli dan membaca buku. Bukan apa2 karena saya mungkin salah satu dari para lajang itu, saya berharap dapat pandangan lebih baik tentang apa yang sedang saya jalani, sehingga kita tdk mudah putus asa atas semua rahmat Allah (dlm hal ini menjalani hidup sbg lajang). But…setelah saya baca bukunya teknik penulisan yang bagus, dan cara penyampaian yang santai malah membuat saya merasa sedih, ternyata banyak wanita yg punya masalah spt saya. Pada dasarnya saya bukan type yg menyesali cobaan yang Allah kasih, but setelah baca buku itu malah membuat saya jadi sedih beneran?? well mungkin saya akan tetap berusaha dan berdoa, menjalani hidup sebagaimana adanya dan mungkin lebih baik tidak membaca karena ….judulnya membuat saya sedih….

Dee
July 10, 2007 12:38 pm

Assalamu’alaikum Aditya, terima kasih banyak ya review buku catatan wanita lajangnya. Semoga banyak manfaat yang dapat diambil dari buku tsb. Buat Febry, kami sama sekali gak bermaksud membuat sedih dengan buku tsb. Kami hanya ingin berbagi. Smeoga kita selalu istiqamah dengan segala kondisi yang Allah beri ya.
salam,
Dian/Dee

nina-bdg
September 23, 2007 3:23 pm

ass….mas aditya, mksh ya ats review buku catatan wanita lajangnya. eh, ada email??
sbnrnya sy ingin sharing ttg topik wanita lajang ini. coz sy akan meneliti wanita lajang spt yg ditulis dlm buku tsb diatas.bkn ingin menyudutkan, tpi justru sy ingin membuat fenomena sosial ini dilihat dr segi keilmuan sy, yaitu antropologi. boleh kan qta sharing??
thx ya! silhkan balas ke fs sy:antrop03@yahoo.com

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.