Bismillahirrahminirrahim
Sebuah malam yang tidak akan pernah dilupakan seseorang seumur hidupnya ataupun bahkan matinya, Di Suatu malam yang akan menentukan malam-malam berikutnya selamanya, Ketika itu cemas, gelisah, takut, sengsara ataupun bahkan kesakitan mendera-dera jiwa, sebaliknya ada juga riang gembira, senang, bahagia dan wajah sumringah terpancarkan dari jiwa yang mungkin dulunya kering kerontang
Ketika itu kekasih jiwa abadi siap menemani, konon kabarnya menurut janji Ilahi sang kekasih abadi ini dengan segala jiwa raga siap menemani sampai kiamat nanti. Tapi berhati-hatilah menemani bukan berarti selalu tentram, pun menemani bukan berarti selalu kesengsaraan
Sang Penguasa jagat mengingatkan, sang kekasih itu adalah cermin, jahat pabila dulunya kita jahat, baik pabila dulunya baik, maka persiapkanlah malam ini, malam yang menentukan, putuskanlah jauh-jauh hari, persiapkanlah sematang buah Apel yang ranum membahasi jiwa, songsonglah malam ini dengan perbaikan amal hari-hari mu, dekatilah Allah SWT pada 2-4 rakaat shalat malammu, banyakkan bacaan Qur’an dan mentaddaburinya, cintailah kaum kerabat dan anak yatim atau bahkan para janda-janda tak mampu, berukhuwahlah sebarkan kebaikan ajaran Ilahi pada alam semesta raya semampumu
bersusah payah lagi kelelahan, itulah fitrah jalan para da’i agar kau tidak menyesal seumur hidup matimu agar malam itu berfungsi sebagai pintu awal menuju jannah-Nya , ketika sepasang malikat menyaksikanmu bukan raut muka merah padam yang diharapkan tapi raut muka senyuman penuh penghormatan, oh sang maha perkasa, aku pun berharap begitu.AMIN
Jadi sudahkah kita sungguh-sungguh menyambut malam pertama itu seperti kita menyambut malam pertama pernikahan ketika hidup dahulu, ketika saudara-saudara kita telah meninggalkan tujuh langkah daripada raga ini. maka kesepian dan kekasih jiwa yang berupa amal-amal di dunia segera menemani, Sudahkah kau persiapkan ?, malam pertama kematian dalam sempitnya Kuburan
andaleh yang cute gitu lohh..
May 24, 2006 1:52 pm
Ketika pulang dari menghadiri walimahan teman, di atas mobil, ana nyari2 ide untuk buat cerpen tentang pernikahan. Tapi kemudian, mobil yang ana tumpangi melewati pekuburan di Karet… jadi kepikiran, betapa ikhwah itu kalo ngobrol seringnya ke masalah pernikahan. Diskusi apa pun, ujung2nya pernikahan. Tapi “pangana” (bhs minang, dlm versi english-nya “mind”) kita jarang ke masalah kematian.
Jadi kepikiran buat cerpen begini: seorang al-akh yang gemar koleksi buku2 pernikahan dan begitu interest terhadap pernikahan (tapi masih bujang). Suatu saat, ia terkena kecelakaan. dalam umurnya yang tinggal tak seberapa itu ia menyadari betapa begitu sia2nya ketertarikannya terhadap pernikahan. Dan masalah kematian yang selama ini jarang ia perhatikan, rupanya sangat berharga.
Allahu’alam bish-showab.