Bismillahirrahmanirrahim
Layaknya pertandingan Sepakbola, kita selalu mengharapkan kemenangan terhadap Tim yang kita cintai, bagi mereka yang Blind of Love (baca : Fanatik Buta, red), kekalahan atau seri yang dialami oleh tim kesayangannya akan mengakibatkan penderitaan kejiwaan berkepanjangan yang imbasnya akan menjalar terhadap perbuatan anarkis (kerusuhan, red) ataupun skeptis (bunuh diri
). tapi bagi mereka yang cintanya proporsional, kekalahan atau seri memang membuat mereka kecewa, tapi kekecewaan tsb tidak dipendam dan dibiarkan berlalu dikarenakan dia mengerti bahwa tidak selamanya hidup itu INDAH, so bagi orang bertipe seperti ini mereka bersikap ikhlas dan bermotto positif , “Enjoy Yourself, Throw Useless Things, And Football Support Must Go On”
Nah begitupula dengan menikah, proses ta’aruf pra akad yang dilakukan relatif singkat, menyebabkan terbentuknya sosok pasangan yang ideal bagi kita, informasi2 yang kita terima selama taaruf biasanya lebih banyak tentang kebiasaaan2 si dia yang terlihat oleh umum, tetapi karakter si Dia yang paling dasar tidak banyak terungkap, kalaupun terungkap kebanyakan porsinya sangat kecil*
Persepsi yang ideal menggiring kita pada gambaran2 indah keluarga dakwah. Suami dipersepsikan bermental Super dan pribadi istimewa layaknya Rasulullah SAW (AC Milan aja yg jelas2 tim super, pernah kalah juga tuh),Istri dipersepsikan layaknya Ibunda Fathimah yang tanpa cela mengabdi pada suami.Hal ini bisa mengakibatkan dampak yang fatal, kerusuhan bisa saja meletus pabila harapan2 itu berlawanan dengan fakta yang ditemukan di lapangan eh maksudnya di rumah.
Lantas apakah berharap itu tidak boleh ? berharap sah-sah saja dan ini menurutku wajar, hanya perlu diingat bahwa seseorang yang akan kita nikahi itu manusia bukan malaikat, banyak kekalahan2 (hayyah)yang mungkin terjadi di kemudian hari yang disebabkan oleh kekurangan2 dari calon istri/suami kita itu..
Berkaca dari hal di atas, oleh karena itu tidak berlebihan apabila “Dedi Mizwar dalam filmnya Kiamat Sudah Dekat” mensyarakatkan sikap ikhlas ketika akan menikah, Sikap ikhlas membuat kita lebih siap untuk menghadapi perbedan-perbedaan nanti, sikap ikhlas pula yang akan menumbuhkan prasangka baik kita kepada Allah.
Sikap ikhlas pun akan menumbuhkan sifat memafkan, kita perlu menyadari bahwa Kita semua hidup dengan cara yang paling baik menurut kita, kita kadang2 melakukan kebodohan dan bertindak berdasarkan informasi yang keliru, tapi toh kita melakukannya dengan cara yang terbaik menurut kita, pasangan kita pun begitu mereka bertindak yang terbaik menurut mereka sendiri. Jika kita ingat akan hal ini kita akan mudah memaafkan si dia.
Jika sikap semua hal tersebut semua telah mendarah daging, Alih –Alih menyebabkan kerusuhan, kejutan-kejutan yang terjadi kemudian, justru akan manambah benih-benih romantisme sehingga cinta dan dukungan kita terhadap si Dia malah menjadi membesar (kata temanku loh), so kalau sudah begini Bukan tidak mungkin kita akan benar2 menikmati INDAHNYA surga dunia . Aamiin
So Kesimpulannya, TETAP SEMANGAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAT 
Note
*Perlu dicatat, saya tidak bermaksud untuk menyalahkan proses Ta’aruf, mengapa ?, karena jika kita melakukan pacaran dalam waktu yang sangat lama sekalipun, hal tsb tidak menjamin terungkapnya semua kepribadian si Dia yang sebenarnya.
**Alhamdulillah, akhirnya bisa juga daku menghubung-hubungkan Sepakbola dan Pernikahan
***Tulisan kecil ini sekedar mengingatkan diriku, Alhamdulillah, jika hal di atas bermanfaat pula bagi rekan2
Referensi :
Indahnya Pernikahan Dini (M Fauzhil Adhim)
Film Kiamat Sudah Dekat (Dedi Mizwar)
Being Happy, Kiat Hidup Tenteram Dan Bahagia (Andrew Mathews)
Temenku (Namanya Dirahasiakan), dan sumber lainnya